MEMAAFKAN KESALAHAN ORANG LAIN, KENAPA TIDAK???


Kebetulan saat ini kita akan menyambut bulan Ramadhan, masa menjalankan ibadah berpuasa bagi umat Islam. Dari pengamatan saya, dalam kebanyakan budaya kita masa ini senantiasa diiringi dengan acara saling memaafkan, baik sebelum mulai menjalani puasa maupun pada saat Lebaran nanti. Meski demikian, apa benar hanya pada masa-masa ini saja kita bisa memaafkan? Bukankah sesungguhnya dalam hidup sehari-hari kita juga sering terlibat dengan tingkah laku yang satu ini? Sebagai contoh, mari kita simak beberapa pertanyaan berikut.
Ada seorang istri bertanya, ”Mungkinkah saya memaafkan suami saya yang sudah berselingkuh? Sama sekali saya tidak menyangka dia tega melakukan hal itu kepada saya.” Seorang yang lain mengatakan, ”Bagaimana cara saya memaafkan kesalahan ayah saya yang sering memukuli saya dengan ikat pinggangnya waktu saya masih kecil.”
Pertanyaan lain, ”Pacar saya sering sekali terlambat datang, tidak sesuai dengan janji. Sekali dua kali, ya, saya bisa memaafkan, tetapi kalau terus-terusan?”

Arti maaf
Dari jawaban umum, kita bisa mengartikan memaafkan sebagai mengampuni kesalahan, tidak mendendam, memberi remisi, atau pembebasan .Secara psikologis, memaafkan merupakan proses menurunnya motivasi membalas dendam dan menghindari interaksi dengan orang yang telah menyakiti sehingga cenderung mencegah seseorang berespons destruktif dan mendorongnya bertingkah laku konstruktif dalam hubungan sosialnya (Cullough, Worthington, Rachal, 1997).
Dari contoh pertanyaan-pertanyaan di atas terlihat banyak kejadian menyakitkan hati akibat dicaci, dibohongi, ditipu, atau dikhianati orang lain, yang membuat kita sering sulit memberi maaf. Mengapa?

Fiksi
Menurut Janis Spring (1996), ada lima anggapan keliru tentang memaafkan yang mungkin membuat kita berhenti belajar melakukannya.
1. Pemaafan terjadi secara total dan sekaligus.
2. Ketika Anda memaafkan, perasaan negatif terhadap orang lain berganti menjadi perasaan positif.
3. Ketika memaafkan seseorang, Anda mengakui perasaan negatif Anda padanya adalah salah atau tak dapat dibenarkan.
4. Bila Anda memaafkan, Anda tidak akan mendapat imbalan apa pun.
5. Bila Anda memaafkan seseorang, Anda melupakan luka hati Anda.

Dengan memercayai fiksi-fiksi tersebut, maka sepertinya tingkah laku memaafkan jauh untuk bisa kita jangkau dan membuat kita jadi berpikir hanya orang suci atau nabilah yang dapat melakukannya karena harus dilakukan tanpa syarat, secara total, dan dengan cara mengorbankan diri pribadi.

Fakta
Padahal menurut Spring, ahli psikologi klinis dari Yale University, AS, memaafkan bukanlah tindakan yang bersih murni dan tidak mementingkan diri sendiri. Memaafkan adalah bagian dari proses yang dimulai ketika kita berbagi rasa sakit hati setelah peristiwa menyakitkan berakhir dan akan berkembang begitu kita punya pengalaman mengoreksi diri, yang membangun kembali rasa percaya dan keakraban terhadap orang lain.Untuk memperbaiki dugaan keliru tadi, kita perlu melihat kenyataan yang sesungguhnya terjadi pada kita sebagai manusia biasa agar dapat lebih mudah belajar memaafkan kesalahan.

Fakta 1. Proses memaafkan selalu berlangsung perlahan dan berlanjut sepanjang hubungan kita dengan orang tersebut.
Mungkin saat ini kita hanya dapat memaafkan kesalahan seseorang sebanyak 10 persen, dan begitu kita membina hubungan kembali kita mungkin dapat menambah dengan 70 persen, tetapi tak pernah lebih banyak lagi.
Hal di atas sah-sah saja. Kita tak perlu menjadi orang baik bila kita memaafkan secara total, kita juga tak perlu menjadi jahat bila tak bisa melakukannya. Kita hanya dapat memberi apa yang mampu kita berikan dan apa yang orang lain peroleh.

Fakta 2. Beberapa orang mungkin bertahan untuk memaafkan karena melihatnya sebagai ”penghentian permusuhan/dendam”, suatu kondisi di mana kepahitan lenyap digantikan rasa cinta dan kasih. Padahal sebenarnya tak ada orang mampu mencapai kondisi seperti itu.
Dalam hidup, luka psikis tak pernah sepenuhnya sembuh atau menghilang, ataupun secara ajaib digantikan hal positif lain. Yang benar, seperti halnya cinta yang matang, memaafkan membolehkan adanya pertimbangan serempak antara perasaan yang bertentangan, gabungan dari rasa benci dan cinta.
Bila kita memaafkan, kebencian kita tetap ada, tetapi diimbangi dengan kenyataan orang yang menyakiti tidaklah begitu buruk ataupun kita yang telah sangat naif.

Fakta 3. Sebenarnya, dengan memaafkan bukan berarti kita mengingkari kesalahan pelaku atau ketidakadilan yang telah terjadi, tetapi hanya membebaskannya dari ganti rugi (retribusi).

Fakta 4. Beberapa orang tak mau memaafkan karena berpikir, ”Mengapa saya harus membebaskan seseorang dari kewajiban memperbaiki kesalahannya?”
Padahal, dengan memaafkan tidak berarti kita lemah atau harus membuat orang lain jadi tidak bertanggung jawab. Bila tujuan kita berekonsiliasi, memaafkan memerlukan penebusan dari pelaku. Pemaafan yang sesungguhnya tak bisa diberikan sampai pelaku membayarnya melalui pengakuan, penyesalan, dan penebusan.

Fakta 5. Yang benar, bagaimanapun orang yang disakiti tak pernah akan lupa seperti apa kita telah diperdaya atau dikhianati, apakah kita memaafkan atau tidak.

Setelah bertahun-tahun berlalu, kita akan tetap bisa mengingatnya, tetapi hanya sebagai bagian dari suatu gambaran/potret yang juga melibatkan masa-masa kebersamaan lain yang lebih positif dengan pelaku.

3 Kunci Rahasia
Lantas bagaimana caranya agar kita bisa lebih mudah memaafkan orang yang bersalah kepada kita? Apa yang perlu kita ketahui dan lakukan agar terbebas dari rasa tidak nyaman dan tersiksa karena sakit hati? Berikut ada tiga kuncinya.

Pertama, kita perlu memahami bahwa meskipun orang yang berbuat salah kepada kita harus menerima balasan atas perbuatannya, tidak berarti kita yang berhak menghukumnya. Orang yang bersalah memang pantas dihukum, tapi siapa yang melakukannya, dimana dan kapan, itu bukan urusan kita.
Lagi pula, orang yang kita benci   seringkali  tidak merasa bersalah dan tenang-tenang saja. Sebaliknya kitalah yang terbebani secara emosi. Setiap kali kita teringat orang yang kita benci, perasaan itu kembali muncul seketika. Karena itu kita yang akan rugi sendiri.

Kedua, memberi maaf tidak berarti membebaskan orang yang kita maafkan  atas kesalahannya.  Juga tidak berarti melepaskan orang yang bersalah dari hukuman formal, jika kesalahannya  melanggar hukum positif.
Penerimaan hukum formal oleh orang yang melakukan kejahatan tidak otomatis membuka pintu maaf. Buktinya, ada saja orang yang tetap tidak mau memaafkan orang lain meskipun yang bersangkutan sudah menjalani hukuman.
Selain itu memberi maaf juga tidak mengubah nilai perbuatan salah menjadi benar. Meskipun kita memaafkan orang lain yang bersalah kepada kita, tidak berarti perbuatannya menjadi benar.
Memberi maaf berarti menerima kenyataan bahwa ada orang lain yang berbuat salah kepada kita. Dan ini sebenarnya lebih untuk kebaikan orang yang memberi maaf daripada kebaikan orang yang dimaafkan. Maaf akan membebaskan yang bersangkutan dari beban emosi yang bisa merusak mental dan tubuhnya.

Karena itu, setiap kali Anda merasa diperlakukan salah, maafkanlah, bahkan sebelum yang bersangkutan meminta maaf dan meskipun yang bersangkutan tidak meminta maaf. Karena memberi maaf lebih untuk kebaikan Anda daripada orang yang Anda beri maaf.

Ketiga, agar lebih mudah memaafkan orang lain  maka serahkan urusan kesalahan orang lain kepada Tuhan.  Setiap orang pasti menerima konsekuensi dari tingkah lakunya. Jika baik, maka akan berbalas baik. Dan jika buruk maka balasannya juga buruk. Tidak peduli apakah suatu keburukan akan dibalas dengan keburukan yang sama, akan dibalas langsung atau tertunda, akan dibalas di dunia atau di akhirat. Yang pasti, setiap keburukan pasti dapat balasan yang setimpal.

Dalam hidup ini Tuhan menciptakan apa yang kita sebut dengan hukum kekekalan energi. Energi tidak bertambah atau berkurang, hanya berubah bentuk. Semua tingkah laku kita merupakan energi, baik positif maupun negatif. Energi yang kita keluarkan pasti sama dengan yang kita terima, meskipun bentuknya bisa berbeda. Karena itu, jika kita menyakiti orang lain, maka energi negatif itu akan kembali kepada kita meskipun dengan bentuk lain.

Karena itu, dengan ketiga kunci tersebut diharapkan kita dapat memulai hari di awal tahun ini dengan bebas dari tekanan dan beban emosi. Dengan begitu, hidup lebih tenang dan juga kita akan terbebas dari penjara mental (ego) menuju kehidupan yang lebih damai dan bahagia.

About these ads

6 Balasan ke MEMAAFKAN KESALAHAN ORANG LAIN, KENAPA TIDAK???

  1. fatma mengatakan:

    Saya sepandapat dengan apa yang di utarakan tadi.Dan orang yang memberi maaf lebih mulia daripada orang yang di maafkan…………..???????????????

  2. kometlizz mengatakan:

    senang saya membaca perkongsian ni stlh mncari kata2 penyejuk hati..
    tidak memaafkan org yg bersalah pada kita akn menghijab dirinya drpd sesuatu kebaikan..
    maafkan lah..
    kedudukan kita akan lebih mulia di sisi Allah..

    “maaf kan lah dia wahai diri..
    dia lebih layak utk disayangi dr dibenci..”
    (^_^)

  3. Dhede mengatakan:

    Awalnya dimulai dengan kebaikan tp dibalas dengan kebohongan, itu sulit sy terima. akan tetapi setelah sy membaca beberapa artikel tentang bagaimana cara membersihkan hati dan mencoba belajar menerima semua yang telah terjadi……..akhirnya saya putuskan untuk memaafkan semua kesalahannya karena saya sadar bahwa itu bukan sepenuhnya kesalahan orang itu. saya pun merasa lebih tenang dan mampu berfikir positif tentang semua itu.
    semua kejadian yang telah terjadi merupakan suatu pelajaran yang sangat berharga yang bisa membuat kita mampu menjadi lebih dewasa…..
    (^_^)

  4. Ruth Angellia mengatakan:

    saya bermasalah dengan teman satu kost. itu berawal dari salah paham. Saya yakin tidak bersalah. ada oknum yang membuat posisi saya sangat terpojok. saya hanya diam ketika mereka menyindir saya, mengerjai saya,sekarang mereka mulai menyebar fitnah dan merusak reputasi saya, saya takut Tuhan. oleh sebab itu saya mencoba memefkan mereka namun mereka malah lebih merajalela.
    saya pikir, seperti orang bodoh rasanya kalau harus bertahan di posisi seperti ini.
    sering saya berdoa menagis agar Tuhan memaafkan kami semua. Tapi rasanya Tuhan lama menjawab.
    saya sangat….sangat…..sangat sakit hati dengan apa yang mereka lakukan pada saya.
    baru kali ini saya bertemu ong seperti mereka…
    saya minta saran teman-teman, apakah saya harus memaafkan mereka?
    dan apa yang harus saya lakukan agar saya bisa berpura pura tidak tau dengan apa yang mereka lakukan?
    tolong beri saran.. terima kasih sebelumnya.

          

    • Rohima mengatakan:

      Aku juga berada di posisi anda…dan akupun tidak sanggup melakukan apapun termasuk memaafkannya…saya berusaha untuk bisa memaafkan, tapi sulit…

  5. gaby mengatakan:

    saya memiliki pasangan saat ini, kita sudah menjalin hubungan pacaran selama kurang lebih 8 tahun..hubungan kita baik2 aja,,,kita memulai pacaran mulai dari tidak punya apapun, sampai memiliki rumah dan mobil, penghasilan..kedua org tua juga hubungannya baik2 aja…suatu saat saya harus mengetahui fakta bahwa dia menduakan saya dengan teman saya yg saya anggap adik sendiri…padahal saya statusnya bertunangan…dan teman saya tau akan hal itu…sy masih berpikir positif…hingga suatu saat pasaangan saya bilang kalau dia telah mengamili teman saya karena khilaf….pada saat itu saya kaget banget…sy ga tau harus bagaimana…saat ini saya memang berusaha memaafkan org tsbt dan pasangan saya…saya memang sudah merelakannya….dan itu benar2 tidak mudah…sy hanya percaya Tuhan akan memberikan yg terbaik buat saya..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 37 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: