MERUBAH DIRI MENJADI LEBIH BAIK… SIAPA YANG MAU????

brick_door_break_pc_sm_wmDi alam ini, segala hal berubah, dan tak ada yang tak berubah, kecuali perubahan itu sendiri. Pada masa kita sekarang, perubahan berjalan sangat cepat, bahkan dahsyat dan dramatik. Kita semua, tak bisa tidak, berjalan bersama atau seiring dengan perubahan itu. Tak berlebihan bila Alan Deutschman pernah menulis buku, untuk mengingatkan kita semua, dengan judul agak ekstrim, “Change or Die” (Berubah atau Mati).

Seperti mendirikan bangunan, setiap kebiasaan yang kita ciptakan seperti lapisan batu bata yang kita letakkan di atas tembok. Kebiasaan yang terbentuk di kemudian hari akan mengambil pola dari kebiasaan sebelumnya. Apabila kita menyadari sejak awal bahwa suatu kebiasaan akan menimbulkan masalah, sungguh suatu tindakan bijaksana untuk segera mengubahnya sebelum itu membentuk suatu pola yang sulit dihilangkan.

Islam adalah agama yang mengajarkan setiap jiwa untuk melakukan perubahan diri sebelum melakukan perubahan pada yang lain, baik itu keluarga apalagi masyarakat.
Setelah rampung merubah diri sendiri maka insya Allah akan bisa menjaga keluarga sendiri. Dan, Allah telah memperingatkan dengan tegas bahwa setiap Muslim wajib menjaga diri dan keluarganya dari ancaman atau bahaya api neraka.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَاراً وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu…”(QS. At Tahriim [66]: 6).

Jadi Islam sangat identik dengan perubahan diri dan keluarga. Itulah mengapa pemikir Syed Muhammad Naquib Al-Attas pernah menjabarkan bahwa konsep terbaik dalam upaya membangun peradaban adalah dengan membangun individu-individu yang baik (sholeh). Bukan dengan membangun komunitas. Sebab komunitas itu adalah kumpulan individu. Manakala mayoritas individunya baik maka baiklah komunitas itu.

Perubahan dalam diri manusia dimulai dari perubahan cara pandang atau perubahan paradigma pikir (mindset). Manusia tak mungkin mengubah hidupnya, bilamana ia tak mampu mengubah paradigma pikirnya. Karena itu, kita disuruh mengubah pikiran kita agar kita dapat mengubah hidup kita (Change Our Thinking Change Our Life).

Akhirnya, perubahan diri itu, menurut Imam al-Ghazali, membutuhkan tindakan nyata (al-Af`al). Ilmu hanya menjadi kekuatan jika ia benar-benar dikelola menjadi program dan tindakan nyata yang mendatangkan kebaikan bagi orang lain. Pada tahap ini, tindakan menjadi faktor pamungkas, dan menjadi satu-satunya kekuatan yang bisa mengubah cita-cita (harapan) menjadi realita (kenyataan)

Persoalannya, mengubah manusia itu sulit, utamanya karena mental map yang diikutinya selama ini. Mengubah manusia berarti mengubah mental map atau cara berpikir mereka. Kesulitan muncul karena manusia tidak mudah mengubah cara berpikir mereka, terutama jika cara berpikir itu terbukti berhasil di masa lampau dan mereka merasa nyaman dengan itu. Dengan kata lain, mental map yang sekarang dianut telah membawa manusia ke dalam zona nyaman (comfort zone). Siapa sih yang mau meninggalkan zona nyamannya?

B&G membagi problem perubahan menjadi tiga bagian: 1) ketidakmampuan melihat kebutuhan untuk berubah, 2) ketidakmampuan untuk bergerak memulai proses perubahan, dan 3) ketidakmampuan untuk menyelesaikan proses perubahan.

Ada dua strategi dalam melakukan perubahan yaitu: contrast & confrontation. Kontras adalah usaha untuk membedakan secara jelas antara kondisi sekarang dan kondisi setelah berubah. Orang hanya akan mau berubah jika dia bisa melihat alasan (reason) mengapa dia harus berubah. Konfrontasi adalah cara untuk “memaksa” seseorang untuk melihat kondisi yang dihadapinya. Kadang manusia perlu digugah dengan cara “disentak”. Gambar paru-paru yang menghitam karena nikotin, jika ditunjukkan pada seorang perokok, bisa menimbulkan efek kejut yang besar. Efek kejut inilah yang harapannya dapat menumbuhkan kesadaran untuk berubah.

Dengan menerapkan kontras dan konfrontasi, diharapkan muncul kesadaran yang cukup untuk meninggalkan pandangan lama dan bergeser ke pandangan baru. Jika ini terjadi, apakah lalu orang lantas mudah untuk berubah? Ternyata tidak. Black dan Gregersen (2003) menjelaskan bahwa meskipun orang sudah mau mengadopsi pandangan baru yang lebih benar dan meninggalkan pandangan lama yang keliru, tidak berarti dia serta merta mau berubah. Bahkan dalam banyak kasus, di sini banyak “jebakan batman” yang membuat orang terperangkap dan tidak bisa move on. Bukankah kita sering mendengar ungkapan-ungkapan berikut ini?

 “Saya sebenarnya sudah berniat belajar secara teratur dan tidak mau lagi menggunakan cara SKS, tapi sulit sekali memulainya.” “Saya sudah berniat berhenti merokok, tapi saya takut tidak kuat menahan godaan yang pasti akan muncul tiap harinya.”Bagaimana mungkin saya lepas dari laptop dan gadget, dan meninggalkan kebiasaan langsung merespons setiap notifikasi yang muncul?”

Semua contoh di atas menunjukkan ekspresi ketidakberdayaan untuk melangkah, meski mereka sudah tahu bahwa mereka harus melangkah dan berubah. Apa yang membuat mereka ragu-ragu? Apakah mereka begitu bodohnya, karena sudah tahu bahwa mereka harus berubah, tetapi tidak mau move on?

Lalu bagaimana caranya berubah???

Pertama, harus disadari bahwa tiap perubahan memang selalu begitu. Selalu saja ada zona tidak nyaman yang harus dilalui. Selalu saja kita harus menjalani tahapan yang kita tahu pasti kita akan merasa bodoh, kedodoran, resah, awkward, dan berbagai rasa negatif lainnya. Coba tanya tiap penggila gadget saat dia jauh dari gadgetnya. Atau seorang mahasiswa yang mencoba mulai belajar utk UTS/UAS sejak sebulan sebelumnya.

Dengan demikian, kata kunci untuk melaluinya dengan baik adalah: keyakinan. Keyakinan bahwa setelah menjalani tahap kegelapan tadi, suatu saat kita akan sampai pada terang. Saat di mana kita sudah bisa menyesuaikan diri dengan tujuan perubahan. Saat di mana kita sudah nyaman dengan hal yang baru. Hal yang kini kita anggap benar.

Setelah keyakinan tumbuh, berikutnya tumbuhkan pula motivasi internal untuk benar-benar memulai perubahan. Nah, tiap individu bisa berbeda dalam hal ini. Ada seseorang yang dengan mudah menumbuhkan motivasi internalnya, tapi ada juga yang sulit sekali melakukannya. Untuk yang sulit menumbuhkan motivasi internal, carilah dukungan dari luar. Carilah, misalnya, orang lain yang bisa memotivasi dan membuat kita tetap on the track.

Begitu motivasi tumbuh, langsunglah bergerak, memulai perubahan. Jangan tunda-tunda lagi. Kalau ada gaya kelembaman bekerja, kalahkan dengan keyakinan dan motivasi. Pikirkanlah tujuan di depan, bahwa hari baru yang lebih cerah dan lebih baik daripada hari-hari lama sudah menunggu untuk diraih. Janganlah sibuk dengan berbagai ketidaknyamanan yang dialami saat menjalani perubahan.

Pantas jika kemudian Allah memberikan satu teguran keras kepada umat Islam bahwa tidak akan ada kemenangan sebelum ada kesiapan dari umat Islam. Allah tidak akan pernah merubah nasib suatu kaum, hingga kaum itu sendiri mau sungguh-sungguh melakukan perubahan.

“Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri…” (QS. 13 : 11).

Maka rencanakanlah perubahan dalam hidup kita untuk benar-benar menjadi Muslim yang baik sedini mungkin. Jika tidak maka kita benar-benar akan berada dalam kerugian yang besar.

Rasulullah mengingatkan kita bahwa siapa yang hari ini lebih baik dari kemarin maka beruntunglah dia. Siapa yang hari ini lebih buruk dari kemarin maka merugilah dia. Dan, siapa yang esok lebih buruk dari hari ini maka celakalah dia. Sebuah pesan perubahan diri yang sangat gamblang. Jadi tidak berlebihan jika kemudian ada ungkapan, ‘Ubahlah dirimu niscaya dunia akan berubah di tanganmu’. Kapan, sejauh memang kita ada kesungguhan (jihad) untuk mendapatkan energi besar, taufik dan hidayah kepada Allah.

وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ

“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar- benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al ankabut [29]: 69).

Semoga kita termasuk bagian orang-orang yang berubah dalam kondisi lebih baik agar Allah Subhanahu Wata’ala bisa menurunkan taufiq nya kepada kita. Sebab jika kita ingin mengubah dunia, satu hal yang harus dilakukan adalah perubahan yang ada pada diri kita lebih dulu

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 39 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: