Akhlak Pemimpin Muslim

sukses_15Kegiatan seorang pemimpin dalam kaca mata Islam memiliki kode etik yang bisa memelihara kejernihan aturan Ilahi, jauh dari sikap diktator, serakah dan egoisme, sehingga membuat lembaga/organisasi yang dipimpinnya sebagai tempat membentuk masyarakat yang saling mengasihi satu kepada yang lain. Dasarnya adalah hal yang menjadi keyakinan seorang pemimpin muslim itu sendiri, yakni bahwa jabatan itu pada dasarnya adalah milik Allah. Manusia seluruhnya hanya bertugas mengendalikannya. Orang yang bertugas mengendalikan tentu tidak berhak keluar dari aturan dan tujuan pemilik jabatan.

Kalau pemimpin tidak mempunyai keyakinan bahwa jabatan itu adalah amanah dari Allah, maka ia kehilangan posisinya sebagai pengendali jabatan. Karunia itu bisa berpindah dari dirinya kepada orang yang lebih pantas melakukan tugas tersebut dan lebih mampu menjaga amanah jabatan tersebut.

Seorang pemimpin muslim dalam melakukan berbagai aktivitas kegiatannya selalu bersandar pada dasar-dasar yang sesuai dengan Al-Qur’an dan Sunnah Rasul, diantaranya:

1.        Niat Yang Tulus

Dengan niat yang tulus, maka semua bentuk pekerjaan berubah menjadi ibadah. Kehidupannya akan berubah pula menjadi kehidupan yang teratur berisi berbagai macam ketaatan dan pendekatan diri kepada Allah. Dengan cara ini kita bisa memahami makna yang mendalam dan komprehensif tentang apa yang kita lakukan. Firman Allah SWT dalam surah Adz Dzariyaat (51:56):

Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku

Rasulullah bersabda:

“Sesungguhnya amal itu dinilai bila disertai dengan niat. Dan sesungguhnya masing-masing orang mendapatkan balasan dari perbuatannya sesuai dengan niatnya..”

 

Yang dimaksudkan dengan niat dalam konteks hadits di atas adalah adanya keinginan baik terhadap diri sendiri dan orang lain. Keinginan baik untuk diri sendiri, yakni selalu menjaga diri sendiri dari hal-hal yang haram, memelihara diri dari kehinaan meminta-minta, menguatkan diri untuk melakukan ibadah kepada Allah, menjaga silaturrahmi dan hubungan kerabat, dan berbagai bentuk kebajikan lainnya.
Keinginan baik terhadap orang lain, yakni ikut andil memenuhi kebutuhan masyarakat yang perbuatan itu terhitung fardhu kifayah, memberi kesempatan bekerja kepada orang lain untuk membebaskan pada diri mereka apa yang selama ini diinginkan olehnya untuk dirinya sendiri dalam hal yang sama.
Demikian juga turut andil membebaskan umat dari ketergantungan kepada orang lain serta berbagai akibat yang ditimbulkan seperti ikatan perbudakan dan imperialisme/penjajahan.

 2.        Akhlak atau Budi Pekerti Yang Luhur

Akhlak yang baik adalah tulang punggung agama dan dunia. Bahkan kebajikan itu adalah akhlak yang baik. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam diutus untuk menyempurnakan akhlak-akhlak yang mulia. Orang yang paling baik akhlaknya adalah orang yang paling disukai oleh Rasulullah dan paling dekat dengan majlis Nabi di hari Kiamat nanti. Orang yang berakhlak baik telah berhasil mendapatkan kebaikan dunia dan akhirat.

Seorang pemimpin muslim selalu menghiasi diri dengan akhlak yang mulia. Sikap itu tidak muncul hanya dari sisi kepentingan jabatannya semata, namun sikap itu muncul dari keyakinan yang kokoh. Porosnya adalah ketaatan kepada Allah dan mengikuti jejak Rasulullah. Kalaupun mereka mendapatkan keuntungan di balik tindakan mereka tersebut, seperti jabatannya dinaikkan, hal itu terjadi sebagai hasil tujuan sampingan, bukan tujuan utama.

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman, memberikan pujian kepada NabiNya, simak dalam Al Qalam (68:4):

Dan Sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.

3.        Usaha Yang Halal

Allah menghalalkan yang baik-baik kepada para hambaNya dan mengharamkan kepada mereka yang jelek-jelek. Seorang pemimpin muslim tentu saja tidak bisa keluar dari bingkai aturan ini, meskipun terbukti ada keuntungan dan hal yang menarik serta menggiurkan baginya. Seorang pemimpin muslim tidak seharusnya tergelincir hanya karena mengejar keuntungan dari jabatan yang dipegangnya sehingga membuatnya berlari dari yang dihalalkan oleh Allah dan mengejar yang diharamkan oleh Allah. Padahal segala yang dihalalkan dapat menjadi kompensasi yang baik dan penuh berkah. Segala yang disyariatkan oleh Allah dapat menggantikan apapun yang diharamkan oleh Allah.

Tidak diragukan lagi bahwa hal ini merupakan keistimewaan seorang pemimpin muslim yang seluruh aktivitasnya bertolak dari kaidah halal dan haram, dan seluruh kegiatan yang dilakukannya dengan mendendangkan syiar mencari keridhaan Allah sebagai tujuan akhir. Dalam pandangan mereka sama saja proyek perjudian dengan proyek pembangunan, karena mereka telah mencampakkan tata nilai, agama dan etika secara total dari paradigma pemikiran ekonomi mereka.

Allah SWT berfirman dalam surah al A’raaf (: 157):

(yaitu) orang-orang yang mengikut rasul, nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma’ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Maka orang-orang yang beriman kepadanya. memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al Quran), mereka Itulah orang-orang yang beruntung.

 Selanjutnya Allah SWT juga berfirman dalam surah Al Maa-idah (5: 100):

Katakanlah: “Tidak sama yang buruk dengan yang baik, meskipun banyaknya yang buruk itu menarik hatimu, Maka bertakwalah kepada Allah Hai orang-orang berakal, agar kamu mendapat keberuntungan.”

Ungkapan ‘yang buruk’ bisa berlaku bagi ucapan, ketetapan dan perbuatan, atau sikap penolakan yang diharamkan oleh Allah dan RasulNya.

4.        Menunaikan hak orang lain

Seorang pemimpin muslim akan menyegerakan untuk menunaikan hak orang lain baik itu berupa upah pekerja, maupun hutang terhadap pihak tertentu. Seorang pekerja harus diberi upah sebelum keringatnya kering. Sikap orang yang memper-lambat pembayaran hutang merupakan kezhaliman. Adapun orang yang mengingkari hutangnya boleh disebarkan aibnya dan diberi hukuman.

Dengan demikian, pada suatu usaha jasa atau badan niaga diharuskan untuk menciptakan suatu sistem yang memiliki orientasi menyegerakan penunaian hak tersebut, seperti memper-cepat pembayaran atau membayarnya sesuai waktu yang ditentukan.

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

Berikanlah upah kepada pekerja sebelum kering keringatnya.”

Nabi Muahammad SAW bersabda:

“Ada tiga golongan yang menjadi musuhKu di hari Kiamat nanti. Orang yang memberi (jaminan) atas namaKu, lalu ia berkhianat. Orang yang menjual orang merdeka lalu memakan hasilnya. Dan orang yang menyewa pekerja dan meminta pekerja itu untuk melaksanakan seluruh tugasnya, namun tidak memberikan upah-nya..”
Di antara hak-hak yang harus ditunaikan yang paling utama adalah hak-hak Allah terhadap para hambaNya yang kaya dalam harta mereka. Yakni dalam bentuk zakat-zakat wajib, diikuti oleh sedekah dan infak. Semua pengeluaran itu dapat membersihkan harta dari segala noda syubhat dan dapat mensucikan hati dari berbagai penyakit yang menyelimutinya seperti rasa kikir, tak mau mengalah dan egois. Harta tidak akan berkurang karena sedekah. Harta tidak akan hilang karena membayar zakat baik di darat maupun di lautan. Sebaliknya, setiap kali satu kaum menolak membayar zakat, pasti hujan akan tertahan dari langit. Kalau bukan karena binatang, pasti hujan tidak akan turun. Semua pengertian itu bisa diperoleh dalam banyak dalil-dalil yang shahih.

Allah SWT berfirman dalam surah al Ma’aarij (70:24-25):

Dan orang-orang yang dalam hartanya tersedia bagian tertentu,  Bagi orang (miskin) yang meminta dan orang yang tidak mempunyai apa-apa (yang tidak mau meminta),

 Allah SWT  berfirman dalam surah At Taubah (3:103):

Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. dan Allah Maha mendengar lagi Maha Mengetahui.

5.        Menghindari menggunakan harta orang lain dengan cara batil

Kehormatan harta seorang muslim sama dengan kehormatan darahnya. Tidak halal harta seorang muslim untuk diambil kecuali dengan kerelaan hatinya. Di antara bentuk memakan harta orang lain dengan cara haram adalah: uang suap, penipuan, manipulasi, perjudian, najsy, menyembunyikan harga yang sebenarnya (kamuflase harga), menimbun barang, memanfaatkan ketidaktahuan orang, penguluran pembayaran hutang oleh orang kaya, dan lain sebagainya.

Allah SWT berfirman dalam surah An Nisaa’ (4: 29):

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. dan janganlah kamu membunuh dirimu; Sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.

Allah melarang hamba-hambaNya yang beriman dari memakan harta sesamanya dengan cara haram, yakni dengan berbagai cara yang diharamkan, seperti riba, judi, suap dan berbagai aktivitas sejenis yang berbentuk manipulatif serta berbagai macam aktivitas yang menggiring kepada permusuhan dan memakan uang sesama dengan cara batil.

Allah SAW berfirman dalam surah al Baqarah (2: 188):

Dan janganlah sebahagian kamu memakan harta sebahagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang bathil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebahagian daripada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu Mengetahui.

Ayat ini mengisyaratkan diharamkannya suap menyuap. Tidak seorang pun pantas menyangkal, karena sebenarnya ia tahu bahwa ia telah berbuat zhalim.

Termasuk di antara sikap buruk yang nekat ketika seseorang memakan harta orang lain dengan cara haram dengan menggunakan sumpah palsu. Itu diisyaratkan oleh hadits Abu Umamah, bahwa Rasulullah SAW bersabda:

“Barangsiapa yang merebut hak seorang muslim dengan sumpah (palsu)nya, pasti Allah akan menjebloskannya ke dalam Neraka dan mengharamkannya masuk Surga.” Ada seorang Sahabat ber-tanya, “Meskipun hanya sesuatu yang sepele wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “Ya, meskipun hanya sebatang kayu arak.”

Diriwayatkan oleh Muslim dari Mas’ud bahwa ia pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda:

“Barangsiapa bersumpah untuk mendapatkan harta seorang mus-lim dengan cara haram, ia akan bertemu dengan Allah dan Allah dalam keadaan murka kepadanya.”

6.        Loyal kepada orang-orang beriman

Seorang pemimpin muslim harus mengusung dalam hatinya loyalitas, kecintaan dan pembelaan terhadap umat ini. Ia tetap menjadi juru nasihat bagi umat Islam, tetap mencintai kebaikannya, tidak menyokong musuh umat atas umat itu. Sehingga dalam melakukan aktivitasnya ia tidak akan bekerjasama dengan musuh-musuh Allah melakukan hal-hal yang membahayakan umat Islam. Dalam melakukan segala sikapnya, ia selalu bertolak dari dasar keyakinan yang kokoh, yang lebih besar daripada uang dan lebih mengakar daripada gunung. Keyakinan itu mencanangkan dalam hatinya sikap al-Wala (loyalitas) dan al-Bara (sikap antipati). Akar keyakinan itu semakin diperdalam oleh puluhan nash diriwa-yatkan berkaitan dengan persoalan ini.

Allah SWT berfirman dalam surah ali Imran (3: 28):

Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin. barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah, kecuali Karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa)-Nya. dan Hanya kepada Allah kembali (mu).

Allah swt juga berfirman dalam surah al Mumtahanah (60:1):

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil musuh-Ku dan musuhmu menjadi teman-teman setia yang kamu sampaikan kepada mereka (berita-berita Muhammad), Karena rasa kasih sayang; padahal Sesungguhnya mereka Telah ingkar kepada kebenaran yang datang kepadamu, mereka mengusir Rasul dan (mengusir) kamu Karena kamu beriman kepada Allah, Tuhanmu. jika kamu benar-benar keluar untuk berjihad di jalan-Ku dan mencari keridhaan-Ku (janganlah kamu berbuat demikian). kamu memberitahukan secara rahasia (berita-berita Muhammad) kepada mereka, Karena rasa kasih sayang. Aku lebih mengetahui apa yang kamu sembunyikan dan apa yang kamu nyatakan. dan barangsiapa di antara kamu yang melakukannya, Maka Sesungguhnya dia Telah tersesat dari jalan yang lurus.

7.        Tidak membahayakan orang lain

Seorang pemimpin muslim harus menjadi “role model” yang baik. Dalam melakukan aktivitasnya, ia tetap menganut kaidah “tidak melakukan bahaya dan hal yang membahayakan orang lain”..

Rasulullah saw telah mencanangkan prinsip larangan ter-hadap hal-hal yang membahayakan melalui sabda beliau:

“Tidak dihalalkan melakukan bahaya atau hal yang membahayakan orang lain,”

 8.        Menjaga komitmen terhadap peraturan dalam bingkai undang-undang syariat

Seorang pemimpin muslim tidak akan membiarkan dirinya terkena sanksi hukuman undang-undang positif karena ia melanggar aturan-aturan dan rambu-rambu yang dihormati di tengah masyarakat. Ketika seseorang melakukan sikap tersebut, bukan berarti ia menetapkan hak bagi manusia untuk membuat undang-undang yang absolut. Akan tetapi sikap itu dia lakukan demi mengokohkan kewajiban yang diberikan Allah kepadanya untuk mencegah terjadinya kerusakan dan mencegah bahaya serta tidak membiarkan diri sendiri celaka. Oleh sebab itu sebisanya hendaknya ia bersungguh-sungguh menghindari berbagai aktivitas yang dapat menjerumuskannya pada perangkap berbagai aturan yang bisa saja bertentangan dengan syariat.

Dengan bersandar pada dasar-dasar di atas, sangatlah diharapkan para pemimpin muslim mampu memimpin dengan adil dan bijaksana serta menjadi “role model” bagi orang-orang yang dipimpinnya dan masyarakat sekitarnya. Semoga para pemimpin muslim menyadari bahwa menjadi pemimpin bukan hanya bertanggung jawab kepada manusia atau organisasi saja tetapi juga bertanggung jawab kepada Allah sebagai pemilik yang hakiki.

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 39 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: