MAJELIS RASULULLAH ANAK MUDA, DAN NILAI-NILAI KENABIAN

Majelis yang mengedepankan ajaran meneladani Rasulullah SAW dalam setiap aspek kehidupan ini sudah menjejakkan dakwahnya di hampir seluruh wilayah Indonesia. Puluhan ribu jamaahnya adalah anak-anak muda.

Jika anda pernah meyusuri jalan-jalan Jakarta pada malam hari, terlebih diwilayah Selatan, Anda barangkali pernah melihat pemandangan ini: sekelompok anak muda, berbaju koko, berkopiah putih, sebagian bersarung, tengah berkonvoi dengan sepeda motor sambil mengusung bendera. Konvoi itu tampak terkoordinasi karena ada beberapa sepeda motor yang memberi aba-aba untuk maju, terus, atau berhenti sejenak untuk menunggu. Konvoi itu adalah konvoi jamaah Majelis Rasulullah yang akan menghadiri pengajian bersama (Tabligh Akbar).

Kehadairan Majelis Rasulullah di tengah masyarakat muslim Jakarta memang teras belakangan ini. Dari baliho, spanduk dan kegiatan-kegiatan besarnya, baik yang diadakan di Masjid Istiqlal maupun Monas telah memberi aura tersendiri bagi dinamika kehidupan beragama Jakarta. Terlebih dengan terlibatnya banyak anak muda dalam kegiatan majelis membuat satu optimisme tersendiri bahwa pemberdayaan kader muda muslim bukan sesuatu yang mustahil dilakukan di Jakarta dan Indonesia, sekalipun tantangan zaman demikian berat.

Menurut H. Syukron Makmun, Sekretaris Majelis Rasulullah, Majelis Rasulullah sebenarnya sama dengan majelis-majelis lainnya sebagai wadah ilmu, dakwah, dan silaturahmi umat. Namun, sesuai namanya, meneladani Nabi memang menjadi porsi besar yang ditekankan oleh majelis.

”Majelis kami ingin menumbuhkan kehidupan nabawi di setiap aspek kehidupan. Jadi bagaimana mencontoh Nabi dalam bersopan santun, beribadah, dalam berkeluarga, dalam mencari penghasilan, besosial dan lainnya, menjdai misi dari Majelis ini,” ujar H. Syukron.

Nama Majelis Rasulullah merupakan nama yang dipilih pemimpin majelis ini yakni Habib Munzir Al- Musawa, seorang ulama muda kharismatik berusia 37 tahun . Setelah lulus dari studinya di Darul Mustafa pimpinan Al- ’Allamah Al Habib Umar bin Hafizh, di Tarim Hadramaut, Yaman, beliau kembali ke Jakarta dan mulai berdakwah pada tahun 1998 lewat taklim-taklim kecildan keliling ke rumah-rumah

Setelah berjalan kurang lebih enam bulan, Habib Munzir mulai membuka Majelis setiap malam Selasa, mengikuti jejak gurunya, Al Habib Umar bin Hafidz, yang membuka majelis di hari yang sama. Ia juga memimpin Ma’had Assa’adah, yang diwakafkan oleh Al-Habib Umar bin Hud Al-Attas di Cipayung.

Setelah setahun, Habib Munzir memutuskan untuk tidak meneruskan memimpin Ma’had, melainkan melanjutkan dakwahnya dengan membuat Majelis di Jakarta.

”Awalnya yang diajarkan Habib Munzir adalah fiqih, tapi ternyata tanggapan umat tidak terlalu menggembirakan. Ia kemudian memutar otak dan ulai berdakwah dengan metode zikir, tasawuf serta membahas akhlak-akhlak Rasulullah untuk diteladani. Materi ini ternyata lebih mengena di hati umat,” uajr H. Syukron lagi.

Setelah jamaah mulai banyak, mulailah timbul permintaan agar majelis ini diberi nama. Dengan polos Habib Munzir menjawab,”Majelis Rasulullah” Nama ini mendapat tanggapan baik karena memang sangat  mengena dengan misi Majelis yang ingin mengusung kehidupan nabawi di masyarakat.

MAJELIS ANAK MUDA

Karena jemaah mulai membludak, Habib Munzir kemudian menjadikan masjid sebagai arena majelis secara bergiliran, yakni Masjid Raya Al- Munawar Pancoran Jakarta Selatan, Mesjid Raya At-Taqwa Pasar Minggu Jakarta Selatan, Masjid Raya At-Taubah Rawa Jati Jakarta Selatan dan Ma’had Daarul Ishlah Pimpinan KH. Amir Hamzah di Jalan Raya Buncit Kalibata Pulo. Masjid Al- Munawar yang memiliki area parkir lebih luas akhirnya dipilih sebagai pusat bagi kegiatan Majelis.

Perlahan namun pasti, dakwah Majelis Rasulullah mulai meluas ke daerah lain. Majelis Rasulullah mulai tersebar di wilayah Pantura juga daerah pesisir selatan Jawa, terus meluas ke Bali, Mataram (NTB), Papua bahkan Singapura, Malaysia dan Australia. Dakwah Majelis juga menyentuh media radio dan televisi (Metro TV, ANTV, dan lain-lain) selain lewat media online dan rekaman digital.

Banyaknya anak muda yang terlibat dalam majelis membuat Majelis Rasulullah memilikli stamina yang besar. Ini bisa dilihat dari kegiatan-kegiatan mereka yang selalu bisa di tata dengan baik karena tangan-tangan muda yang segar dan berpikiran jernihlah yang menanganinya.

Ada beberapa kisah menarik mengenai hal ini. Suatu ketika, karena seringnya mendengar ceramah, zikir dan untaian tausiyah yang disampaikan Habib Munzir, seorang pecandu narkoba bertaubat dan ingin mengikuti kegiatan majelis. Anak muda itu biasanya memakai narkoba disamping masjid hingga secara tak sadar ikut menjadi pendengar acara Majelis. Ia yang tak pernah berpikir bertaubat sebelumya mendapat hidayah Allah swt hingga mau berikhtiar keluar dari jerat narkoba.

Tangan-tangan muda yang bersemangat dan saleh itu jugalah yang membuat Majelis Rasulullah memiliki sebuah website yang sangat mumpuni mendukung kegiatan majelis. Barangkali website Majelis Rasulullah adalah satu-satunya lembaga Islam yang ditangani dengan baik.

Semua kegiatan yang sudah, sedang dan akan dilakukan terdata dengan baik dan selalu up to date. Siapapun yang ingin mengetahui mengenai informasi majelis dapat mengakses dengan mudah dan mendapatkan informasi memadi mengenai majelis ini.

PERCIKAN DAKWAH

Luasnya dakwah Majelis Rasulullah telah menjadikan tak kurang satu juta jemaah terkait dengan majelis ini. Karenaya tak heran jika perwakilan Majelis Rasulullah terdapat disemua propinsi Indonesia, bahkan di wilayah Timur dimana komunits Islam kadang menjadi minoritas di sana.

Saat mengunjungi Papua, ada kisah mengharukan yang dialami Habib Munzir dan tim dari Majelis Rasulullah. Perjalanan yang dilakukan pada akhir tahun 2008 ini menguak fakta bagaimana sangat pentingnya misi dakwah Islam dilakukan di Papua karena kebutuhan atas pengajar agama disana masih sangat besar.

Mereka menginjak tanah Manokwari yang disebut ”Kota Injil” ditengah hutan belantar yang lebat dan daerah yang masih perawan. Hampir tak ada musholla atau masjid yang mereka bisa temui. Pun takada wanita berjilbab atau laki-laki berkopiah yang ditemui. Tak salah, siapa saja akan menduga bahwa tak ada komunitas muslim di sana.

Tapi saat tiba di Ransiki, tiga jam perjalanan dari Manokwari, terdapat pemandangan yang mengharukan karena ada sebuah sepeda motor dimana sebuah bendera terpasang dibelakangnya. Bendera itu ternyata adalah bendaera Majelis Rasulullah. Ada beberapa anak muda yang memakai jaket Majelis Rasulullah tengah duduk-duduk hendak menyambut Habib Munzir.

Dibelantara Papua juga ditemui fakta bahwa Islam sudah masuk lebih dulu dari Nasrani karena ada seorang ketua adat disana yang menyimpan sebuah benda keramata dari leluhurnya, tapi ia tak tahu benda apa itu.

Benda itu ternyata adalah Al-Qur’an tua yang dditulis tangan. Ada juga sebuah suku di Papua yang yang mengharamkan babi  dan menjalani sebagai hukum adat, tanpa tahu bahwa itu terkait dengan dkawah Islam masa lampau yang pernah hadir disana.

Inilah yang yang menjadi kegundahan sekaligus tekad Habib Munzir untuk terus mengkader anak-anak muda muslim militan yang kelak akan membawa ruh tauhid  menyentuh wilayah-wilayah tersebut.

”Harapan majelis ini hanya satu, bahwa kehidupan nabawi bisa hadir dengan nyata dalam masyarakat Indonesia. Kita berpolitik; berpolitik dengan nilai-nilai Nabawi, bermasyarakat denan nilai nabawi, begitu juga dalam beribadah, berdakwah dan sebagainya,” ujar H. Syukron..

Kita doakan harapan ini terkabul dan semoga Majelis Rasulullah terus menjadi warna sejuk dan dominan bagi umat sekarang.

Satu Balasan ke MAJELIS RASULULLAH ANAK MUDA, DAN NILAI-NILAI KENABIAN

  1. Cupi mengatakan:

    Subhanallah….. Semoga Allah Jadikan Jakarta Kota Sayyidina Muhammad SAW!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: