MAKNA DOA DAN DZIKIR

images1Doa adalah obat bagi jiwa dan inti dari ibadah. Karenanya, sangat tak mungkin melepaskan doa dari ibadah puasa yang juga merupakan amalan yang sangat dianjurkan. Doa adalah bukti pengakuan seorang hamba kepada pencipta-Nya. Bukti bahwa manusia tidak memiliki satu kekuatan apapun. Doa juga sebagai satu cara untuk mendekatkan diri kepada Sang Rabb serta menyembuhkan hati dari keraguan, kesedihan dan penyakit, membuka pintu rezeki dan memberikan kleberkahan dalam hidup sepanjang waktu.

Al- Qur’an sebagai penyembuh penyakit yang berada didalam dada dijelaskan dalam surat Yunus ayat 57, ”Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmudan penyembuh bagi penyakit- penyakit yang ada dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang beriman.”

Dalam dada manusia terdapat paru-paru, jantung dan hati. Jika hati sudah dihinggapi penyakit, maka penyakit tersebut akan sulit disembuhkan kecuali dengan ayat-ayat Allah. Api akan padam ketika disiram dengan air. Tapi, ketika hati menjadi panas, maka panas hati ini bisa menghancurkan apa saja yang ditemuinya. Api hati akan sulit dipadamkan. Pembunuhan, perkelahian dan perceraian bahkan korupsi juga sebagai akibat dari hati yang sakit.

Seperti yang dijelaskan dalam hadist yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, ”Sesungguhnya dalam jasad ada segumpal daging, bila ia baik, maka baik pula seluruh jasad, dan apabila ia rusak, maka rusaklah seluruh jasad. Ketahuilah  bahwa gumpalan itu adalah hati.” Jadi, sudah jelas bahwa penyakit hati memilik implikasi dan bahaya yang sangat besar.

Lalu, bagaimana cara menyembuhkan peyakit hati? Tidak ada cara lain kecuali berdoa kepada Allah. Terdapat banyak ragam doa yang dipanjatkan kepada Allah, mulai dari istighfar , shalawat Nabi maupun kalimat thoyibah lainnya.

Tujuan utama dari doa adalah untuk pendakian spiritual menuju kepada Sang Khalik, proses penyatuan diri seorang hamba kepada pencipta-Nya. Shalat, puasa, dan setiap amal kita terkait dengan itu. Karenanya, puasa akan menemukan makna terdalamnya saat  dihiasi dengan dzikir dan doa yang senantiasa  khusuk dan tulus.

Sementar itu, kata zikir mempunyai makna yang beragam. Kata itu bisa merujuk kepada Kitab Allah, shalat,  belajar dan mengajar. Penulis kitab Fiqh al- Sunnah berkata dalam bab mengenai zikir bahwa Said bin Jubair berkata,” Seseorang yang patuh kepada  Allah pada kenyataannya juga sedang berzikir .”

Beberapa ulama dari periode awal mengaitkannya dengan suatu bentuk (ibadah) yang lebih spesifik. Ada yang berkata bahwa majelis zikir adalah perkumpulan dimana didalamnya dibicarakan hal-hal yang baikdan terlarang, sebagai contoh jual-beli, shalat, puasa, pernikahan, perceraian, dan haji.

Qurtubi berkata bahwa zikir adalah suatu perkumpulan untuk ilmu pengetahuan dan nasehat dimana firman Allah, Sunnah Rasulullah, nasihat para pendahulu yang shaleh, dan ucapan para ulama yang baik, dipelajari dan dipraktikkan tanpa ada penambahan atau inovasi, serta tanpa motif terselubung.

Berdoa kepada Allah dapat dilakukan dengan lidah, mengikuti satu formula yang diajarkan Rasulullah SAW, atau formula lain, atau mengingat Allah dalam hati, atau kedua-duanya, melalui hati dan lidah.

Zikir kadang bisa berarti mengingat secara internal dan menyebutkan secara eksternal, sebagaimana yang dijelaskan dalam ayat ”Ingatlah Aku, maka Aku akan mengingatmu.” (QS. Al- Baqarah : 152)

Sebuah hadist Qudsi juga menyebut:

”Mereka yang mengingat-Ku dalam hatinya, Aku mengingatnya dalam hati-Ku, dan mereka yang mengingat-Ku dalam suatu majelis (yang berzikir menyebut nama-Ku), Aku mengingat mereka (dengan menyebut mereka) dalam suatu majelis yang lebih baikdari majelis mereka.”

Hadist yang sangat penting ini akan dijelaskanlebih jauh dibawah ini. Cukuplah dikatakan secara umum ada 3 tipe zikir, yaitu: yang dilakukan dalam hati, yang diucapkan dengan lidah, dan melakukan dengan keduanya secara bersama-sama.

Ibnu Hajar menerangkan bahwa, menurut cerita Abu al- Darda mengenai kelebihan zikir atas jihad, yang dimaksud zikir disini adalah zikir yang disertai dengan kesadaran akan kebesaran Allah sehingga misalnya, seseorang dapat menjadi lebih baik, daripada mereka yang memerangi orang kafir tanpa ingatan semacam itu.

Dalam hadist lain yang diceritakan Imam Bukhari, Rasulullah bersabda bahwa mereka yang melakukan zikir adalah orang hidup, sedangkan yang tidak melakukannya bagaikan jasad yang sudah mati. Nabi berkata, matsalu al –ladzi yadzkuru rabbahu waa al-ladzi la yadzkuru rabbahu matsalu al-hayyi wa al-mayyit.

Ibnu Hajar mengomentari bahwa yang dimaksud dengan zikir disini adalah ucapan atas ekspresi yang telah dianjurkan bagi kita, dan dicapkan dengan jumlah yang melimpah, seperti halnya amal saleh yang abadi al- baqiyat al-salihat mereka. Subhanallaah, Alhamdulillah, Laa ilaaha illallaah,Allahuakbar dan semua yang berhubungan dengannya, seperti : Laa hawla walaa quwwata illlaa billaah, Bismillahir rahmaanir rahiim, Hasbunallahu wa ni’mal wakil,istighfar dan lainnya seperti doa memohon kebahagiaan didunia dan akhirat.

Zikir juga diterapkan sebagai ketekunan dalam menjalankan kewajiban atau segala tindakan ibadah, seperti membaca Al-Qur’an, mambaca hadist, mempelajari ilmu- ilmu Islam dan shalat-shalat sunnah.

Zikir dapat dilakukan dengan lidah, dimana orang yang membacanya akan mendapat pahala. Tidak perlu baginya untuk mengerti dan menghayati artinya dengan syarat dia tidak mempunyai maksud lain dengan mengucapkannya, dan jika, sebagai tambahan terhadap pengucapannya itu, juga dilakukan zikir dalam hati, maka zikirnya menjadi lebih lengkap dan jika ditambah dengan penghayatan terhadap makna yang terkandung didalamnya, zikirnya menjadi lebih lengkap lagi, dan jika ini semua dilakukan dalam rangkaian ibadah , baik dalam shalat atau lainnya, maka akan lebih lengkap lagi. Jika seseorang menyempurnakan perhatiannya kepada Allah dan memurnikan ketulusan kepada-Nya, maka itu adalah kian sempurna.

Fakhr al–Din  al- Razi berkata bahwa apa yang dimaksud dengan zikir adalah ekspresi terhadap tindakan penyembahan  (tasbih), pujian (tahmid), dan memuliakan (tamjid). Sementara zikir dalam hati terdiri atas refleksi terhadap bukti dan tulisan yang menunjukkan intisari Allah dan sifat-sifat Nya, pada kewajiban yang didalamnya termasuk hal- hal yang diperbolehkan dan dilarang sehingga seseorang dapat menguji aturan yang berkaitan dengannya dan pada rahasia ciptaan Allah. Sesdangkan zikir anggota badan mencakup pada tindakan kepatuhan yang dilakukannya. Itulah sebabnya Allah SWT menyebut shalat sebagai zikir.

Allah berfirman, ”Ketika panggilan (azan) untuk melaksanakan shalat Jumat telah dikumandangkan, segeralah kalian mengingat Allah..” (QS Al- Jumu’ah:9)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: