MENGAMBIL HIKMAH DARI SEBUAH MUSIBAH

gempa1Hidup ini adalah “ Perjuangan”. Tentu kita telah akrab dengan slogan yang satu ini. Bukan bermaksud untuk propaganda, tapi slogan tersebut sangatlah dalam maknanya terutama pada saat ini. Manusia haruslah berjuang untuk hidup atau hidup untuk berjuang bagi saya pribadi itu sama saja dan tidak dapat kita pisahkan satu dengan yang lainnya. Perjuangan akan hidup amatlah terasa pada saat musibah atau bencana menimpa kita, terutama jika musibah atau bencana yang menimpa kita itu datang dengan tiba – tiba.

Musibah yang terjadi selama beberapa bulan terakhir ini sangatlah dahsyat dan kadang kita tidak habis pikir kenapa ini semua bisa terjadi ?. Dimulai dengan peristiwa bom, banjir di Sumatera, gempa di Jawa Barat dan terakhir gempa di Sumatera Barat dan Jambi yang terjadi secara bergiliran seakan – akan menimbulkan pertanyaan “ apa salahku dan apa dosaku?”.

Akibat dari bencana ini, tentu ada yang berduka kehilangan sanak-saudaranya maupun harta benda. Kepada yang keluarganya telah wafat terkena musibah, tentu kita bisa merasakan kepedihan itu. Tetapi di saat yang sama kita harus mampu mengobati jiwa kita. Bahwa kematian itu adalah milik Allah, Allahlah yang menciptakan makhluk, Allah juga yang satu-satunya mematikan makhluknya. Dan kematian tidak akan tertukar waktunya. Allah berfirman dalam (QS Ali -Imran [03] : 185), “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.”

Musibah memang bisa bikin susah. Tapi jangan keterusan bikin hati gundah. Karena ternyata Allah menyiapkan hikmah di baliknya. Tetap don’t worry be happy.

Kalau kita pikir-pikir, ternyata hidup ini memang ada siklusnya; ada siang ada malam, ada mentari ada  rembulan, dan ada tawa ada duka. Allah Swt. tidak hanya memberikan kesenangan hidup buat umat manusia, tapi juga memberikan sesuatu yang bisa bikin manusia terhenyak lalu bercucuran air mata duka. Itu semua kata orang-orang alim dan soleh adalah sunnatullah. Sesuatu yang memang sudah ditakdirkan oleh Allah sebagai bagian kehidupan yang sudah pasti menimpa manusia. Misalnya, ada kelahiran ada juga kematian. Ketika ada bayi yang lahir, orangtuanya kan pasti gembira dan sumringah. Tapi ketika orang yang dikasihi meninggal, pastinya bersedih. Dan ternyata itu terjadi setiap saat dalam kehidupan kita, tidak ada orang yang bisa menolak kelahiran dan kematian. Semua udah ditakdirkan oleh Allah Swt. FirmanNya: “Apabila Dia telah menetapkan sesuatu, maka Dia hanya berkata kepadanya: “Jadilah”, maka jadilah ia.”(QS Maryam [19]: 35)

Tapi apa Allah tega melihat mahlukNya menderita? Pasti tidak !! Allah memang selalu memberi yang namanya ujian hidup buat manusia yang beriman. Kalau ada manusia yang beriman, maka Allah ingin tahu seperti apa  keimanannya; beneran atau palsu? Tinggi atau rendah? Allah Swt. berfirman: “Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi?” (QS al-’Ankabuut [29]: 2)

Ujian yang berupa musibah itu macam-macam bentuknya, mulai dari yang kecil sampai yang besar. Mulai hati yang resah, badan yang cape dan pegel-pegel, sampai musibah besar seperti yang menimpa saudara-saudara kita di berbagai daerah. Termasuk serangan Israel ke Palestina dan Libanon adalah ujian dari Allah untuk umatNya. Rasulullah saw. bersabda: “Tiada seorang muslim yang menderita kelelahan atau penyakit atau kesusahan hati, bahkan gangguan yang berupa duri melainkan semua kejadian itu akan berupa penebus dosa.” (HR Bukhari, Muslim)

Sebuah musibah akan dapat membukakan hati dan menggugah empati sesama manusia, hikmahnya semakin merekatkan rasa cinta kasih dan silaturrahim, serta mampu pula mengeluarkan nilai-nilai ubudiyah doa yang selama ini terpendam, saling mendoakan kepada yang sedang tertimpa. Selayaknya dan manusiawi sekali bila orang-orang merasa terpanggil untuk ikut bertanggung jawab dan mencintai orang yang sedang tertimpa musibah dan mendapatkan cobaan/ujian, masing-masing membantu semaksimal kemampuan kita.

Kemudian diantara hikmah lain yang bisa dirasakan manusia ketika mendapat kan musibah yaitu dicabutnya sumbu perseteruan, maka tiba-tiba orang-orang yang saling bermusuhan diantara mereka lebur dengan sendirinya, kemudian mereka menjadi kawan yang sangat setia, saling membantu. Dan masih banyak hikmah-hikmah lainnya dibalik sebuah musibah. Sesungguhnya musibah musibah itu menampakkan keajaiban – keajaiban dan makna yang benar-benar tidak disadari oleh kita sebagai hambaNya, kecuali setelah semua itu terkuak, ternyata sangat luar biasa.

Mari kita coba renungkan Nice Word karya WS Rendra (Alm) yang tercecer, yang saya sendiri tidak tahu judulnya :

Seringkali aku berkata ketika orang memuji milikku,
Bahwa sesungguhnya ini hanya titipan,
Bahwa mobilku hanya titipanNya,
Bahwa rumahku hanya titipanNya,
Bahwa hartaku hanya titipanNya,
Bahwa putraku hanya titipanNya,

Tetapi,

Mengapa aku tak pernah bertanya,
Mengapa Dia menitipkan padaku ?
Untuk apa Dia menitipkan ini padaku ?
Dan kalau bukan milikku,
Apa yang harus kulakukan untuk milikNya ini ?
Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan miliku ?

Mengapa hatiku justru terasa berat,
Ketika titipan itu diminta kembali olehNya ?
Ketika diminta kembali, kusebut itu sebagai musibah,
Kusebut itu sebagai ujian, kusebut itu sebagai petaka,
Kusebut dengan panggilan apa saja untuk melukiskan bahwa itu adalah derita.

Ketika aku berdo’a,
Kuminta titipan yang cocok dengan hawa nafsuku,
Aku ingin lebih banyak harta, ingin lebih banyak mobil,
Lebih banyak rumah, lebih banyak popularitas,
Dan kutolak sakit, kutolak kemiskinan,
Seolah …. semua “derita” adalah hukuman bagiku,
Seolah … keadilan dan kasih Nya harus berjalan seperti matematika,

Aku rajin beribadah,
Maka selayaknyalah derita jauh dariku, dan Nikmat dunia kerap menghampiriku,
Kuperlukan Dia seolah mitra dagang,
Dan bukan kekasih,
Kuminta Dia membalas “perlakuan baikku”,
Dan menolak keputusanNya yang tak sesuai dengan keinginanku,

Gusti,
Padahal tiap hari kuucapkan,
Hidup dan matiku hanyalah untuk beribadah,
“Ketika bumi dan langit bersatu, maka bencana dan keberuntungan sama saja“

Jadi untuk saudara-saudaraku yang tengah tertimpa musibah, di mana saja, don’t worry be happy. Di balik aneka musibah itu Allah tengah menyiapkan aneka kebaikan dan pahala yang luar biasa, jika kita mau bersabar dan tetap berkeyakinan kalo Allah itu Maha Pengasih dan Maha Penyayang.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: