Surat untuk “Sang Kekasih…”

Bismillahi ar-Rahman ar-Rahim

Dear Rasulullah…

Entah bagaimana kabarmu kini Rasul, tapi kenapa yah, aku merasa bahwa kau tengah terlelap tidur tanpa mimpi-mimpi yang menjemukan dan mengganggu. Tak tega aku membangunkan dan mengganggu tidurmu rasul. Rasa-rasanya dengan melihatmu terlelap saja hilang sudah keluh yang hendak kusampaikan.

Mungkin engkau lelah menanggung beban selama 63 tahun. Dicaci, dihujat, dihina, dan disiksa oleh kaummu sendiri. bahkan oleh orang terdekatmu. Rasul, kiranya aku berada di sisimu pada saat itu, kuberikan tubuhku dan kehormatanku untuk menggantikanmu, dan melepaskan deritamu. Meski hanya sedikit, ya meski hanya sedikit. Tapi… akankah aku berada dipihakmu jika Allah menghendaki aku terlahir bersamaan dengan kerasulanmu? Jangan-jangan, malah akulah Abu Jahal, atau Abu Lahab saat itu? Ah, entahlah.

Perjalananmu bersama sahabatmu Abu Bakar sungguh memberikan inspirasi bagi ku. Adakah teman seperti beliau ya rasul? Konon sampai-sampai beliau rela pahanya dipatuk ular dan tak bergeming demi kecintaannya padamu, ketika engkau tengah merebahkan kepala mu dipangkuannya.

Kasihmu pada sahabat-sahabatmu tiada sesiapapun yang dapat menyamainya. Kiranya hanya cinta Tuhanmu dan cintamu sajalah yang mereka peroleh sungguh lebih dari cukup bagi mereka. Begitu ikhlas engkau mencintai mereka dan mereka mencintaimu. Hingga perrisai tubuh pun rela mereka persembahkan demi menjagamu. Panah yang menghujam tubuh serasa panah cinta yang memberi kesenangan. Tombak yang menembus jantung, bagaikan sapaan bidadari yang memberi ketenangan. Sabetan pedang pun tak ubahnya seperti lambaian tangan surga yang menyapa. Janji darimu dan dari Tuhan-mu tiada sedikit pun salah duhai rasul.

Saat ini terngiang-ngiang sebuah ucapan yang begitu indah, seolah-olah aku dibawa ke dalam majelis mu rasul. Sami’na wa atho’na…. Kami dengar dan kami taat… Ucapanmu adalah titah bagi kami. Ucapanmu adalah petunjuk dari Tuhan kami. Ucapanmu adalah pembawa cahaya dalam gelap jalan kami. Mungkin itu yang dirasakan oleh para sahabat ketika mendengar ucapan dan titah darimu.

Rasulullah… utusan Allah, kekasih Allah, dambaan bagi siapapun di dunia ini yang memiliki keimanan dan kecintaan untuk berjumpa denganmu. Rasul, sedikit ada yang mengganjal di hati kecil ini ya rasul. Perkenankan aku mengungkapkan apa yang selama ini ingin kusampaikan, yah meski dengan beberapa carik kertas.

Sudah lebih dari seratus tahun semenjak engkau mangkat dari bias dunia ini. Selama itu pula banyak dari kami yang sebelumnya mengakuimu sebagai umatmu dan hamba Allah, Tuhanmu Tuhanku dan Tuhan kami…kini kami tengah kehilangan arah. Aku tak tahu apakah aku termasuk di dalamnya. Atas nama mu saudara-saudaraku mempraktekkan bentuk ubudiyyah yang bahkan dengan keterbatasan ilmuku tidak pernah aku mendengar engkau memerintahkannya. Aku tidak tega untuk menyebutkan siapa dan apa yang mereka kerjakan. Semoga laknat mu tidak jatuh atas kami.

Bulu romanku berdiri ketika suatu ketika aku mendengar ada yang berkata bahwa di yaumil akhir nanti ketika kami, juga engkau dibangkitkan kembali oleh Sang Penguasa, dan dikala itu engkau berniat memberikan syafa’at kepada kami selaku umatmu, Allah menahan syafa’at mu itu. Bukan karena enggkau bersalah duhai bagindaku, bukan pula karena kelalaian permohonanmu, tetapi karena Allah memperingatkanmu dan memberitahukan kepadamu bahwa ada di antara kami yang beribadah tanpa ada contoh darimu. Dan ku lihat mukamu merah padam, urat lehermu menegang, bibirmu bergetar menahan marah, dan mungkin malu kepada Allah.

Dan engkau pun kekasihku, berpaling dari orang-orang itu. Tuhan… pencipta langit dan bumi, jangan biarkan dakwaan-Mu jatuh kepada hamba dan keluarga hamba…

Tak dapat kubayangkan betapa engkau yang begitu penyabar dapat sedemikian marahnya. Satu yang dapat aku rasakan, mungkin kami telah keterlaluan terhadap risalah dan amanat yang kau titipkan kepada kami. Duh, malang nian nasib kami. Jangan marah ya Rasulullah, jangan berpaling dariku kekasih Allah.

Rasul, kenapa yah engkau tak hidup hingga dapat mendampingiku menuju jalan Tuhanku. Apa karena kau tidak mencintaiku? Ataukah karena karena sebegitu percayanya engkau terhadap janji Allah bahwa akan ada di tiap umatmu yang akan membela dan mempertahankan kemurnian ajaranmu, ajaran kemuliaan, ajaran kedamaian, ajaran kesempurnaan, dan ajaran kebenaran??

Oh ya rasul, aku ingin mengutarakan suatu pernyataan kepadamu, bahwa aku begitu… mencintaimu. Kiranya Tuhanku bersedia menyelaraskan perkataan dan perbuatanku, duh, aku amat bersyukur sekali. Bukan apa-apa rasul, karena seperti Allah katakan melalui lidahmu  bahwa Dia (Allah) tidak suka kepada orang yang hanya berkata-kata. Dengan kata lain, antara yang dikatakan dan yang dilakukan bertentangan. Aku tak dapat membayangkan bagimana jadinya orang yang mendapat benci dari Allah. Aduh… aku takut sekali. Tuhan tolong aku!!! Tunjukkanlah aku jalan menuju cinta-Mu, kasih rasul-Mu, meski jalan itu adalah jalan yang tidak menyenangkan, dan mengekang!!

Jika hanya dengan jalan itu aku dapat bertemu denganmu, juga tentu saja dengan Allah, kekasih nomor satu (wah rasul, kita sama-sama punya kekasih satu yang sama yah, kira-kira siapa yah yang paling mencintai Dia? Ah takut aku bila dibandingkan denganmu), maka jalan itulah yang kemudian akan aku tempuh, walau itu adalah hal terakhir yang harus kulakukan, maka akan kulakukan, dan kulalui jalan itu. Tiada daya dan kekuatan kecuali daya dan kekuatan milik-Mu semata, bukan begitu rasul?

Ternyata kata-kataku ini tidak dapat mewakili isi hatiku dan mengemas berjuta asa di benakku. Untuk itu rasul, kutitipkan salam melalui Allah berupa shalawat untukmu. Semoga shalawat itu pula yang dapat menerangi hatiku, yang dapat menumbuhkan kecintaanku kepadamu, yang dapat mengokohkan keyakinanku kepada Tuhanmu, Tuhanku; Allah Subhanahu wa ta’ala.

Terakhir rasul, maaf sekali jika aku sudah menyita waktu dan mengganggu tidurmu. Mohon maaf yang sebesar-besarnya karena menambah pikiranmu tentang urusan yang seharusnya tak lagi dibebani kepadamu. Selamat tidur rasulku, selamat bermimpi indah kekasihku. Kuharap dapat bertemu denganmu walau hanya sekedar dalam mimpi.

Salam cinta dan peluk untukmu…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: