JANGAN SALAH MEMOTIVASI SISWA

Kamu itu memang anak yang tidak bisa dikasih tahu ya…sudah bodoh, nakal lagi…!!!!!!!! contoh donk si A, sudah ganteng/ cantik, baik, sopan, dan pintar … sholatnya bagus lagi… kamu itu apa???

Pasti pernah donk kita mendengar kata – kata ini dalam kehidupan sehari – hari, atau mungkin kita yang mengalaminya karena dimarahi oleh orang tua maupun guru, atau bisa jadi kita yang melakukan hal itu kepada anak – anak kita baik di rumah maupun di sekolah bahkan mungkin juga terhadap pegawai ataupun orang yang bekerja pada kita.

Mungkin tanpa kita sadari, apa yang kita katakan terhadap anak – anak yang dianggap sebagai biang pembuat masalah malah menjadi masalah baru buat kita. Betapa tidak, gelar yang kita berikan kepada mereka sebagai anak yang nakal, bodoh, malas belajar, melawan sama guru, apel telat, tidak mengerjakan PR, dan sholat yang bolong – bolong akan terus melekat pada pikiran dan perasaan mereka.  Mereka akan selalu mempunyai pemikiran apa yang akan mereka lakukan pasti selalu mendapatkan kritikan, walaupun pekerjaan atau hasil yang mereka peroleh baik. Tidak ada lagi motivasi dalam langkah dan gerak mereka di hari – hari yang mereka jalani karena mereka dalam diri mereka sudah melekat hal – hal yang amat jelek.
Dalam mendorong keberhasilan mewujudkan tujuan belajar, motivasi merupakan penentu yang sangat penting, bagaikan bensin yang dapat menggerakan mesin mobil menuju tempat tujuannya. Bagitulah arti penting motivasi, sebagaimana yang didefinisikan oleh Elliot (2000) bahwa motivasi adalah keadaan internal yang menyebabkan kita bertindak, mendorong kita pada arah tertentu, dan menjaga kita tetap bersemangat pada aktivitas tertentu.Motivasi membantu siswa cepat memahami pelajaran secara lebih baik sehingga mampu meraih tujuan belajar.

Pada dasarnya, motivasi ada dua jenis, yaitu motivasi intrinsik dan motivasi ekstrinsik.

  1. Motivasi intrinsik timbul dari dalam diri individu sendiri tanpa ada paksaan dorongan orang lain, tetapi atas dasar kemauan sendiri.
  2. Motivasi ekstrinsik timbul sebagai akibat pengaruh dari luar individu, apakah karena adanya ajakan, suruhan, atau paksaaan dari orang lain sehingga dengan keadaan demikian siswa mau melakukan sesuatu atau belajar.

Sebagian siswa mungkin memiliki antusiasme dan motivasi tinggi terhadap pelajaran yang diberikan guru. Namun, sebagian besar siswa yang lain membutuhkan  guru mereka menginspirasi, memberikan tantangan, dan menstimulasi mereka. Bagi siswa yang bermotivasi diri rendah peranan guru sangat penting dalam meningkatkan motivasi ekstrinsiknya. Karakter dan tindakan guru di ruang kelas dapat mentransformasi derajat motivasi siswa sehingga menjadi lebih tinggi atau sebaliknya. Sebagian besar siswa pada dasarnya akan merespon positif terhadap pengajaran kelas yang terorganisir dan guru yang tulus mencurahkan perhatian saat mengajar. Setiap aktivitas yang guru lakukan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran secara otomatis akan menambah motivasi belajar siswa.

Tidak ada satu rumus dan formula instan yang dapat digunakan untuk memotivasi siswa. Kecuali kita memahami bahwa guru telah terdidik dan terlatih secara profesional dalam meningkatkan motivasi siswa. Secara ideal guru telah disiapkan dan terampil membangun cita-cita siswa. Di samping guru, banyaknya faktor yang mempengaruhi motivasi siswa dalam belajar. Seperti yang diungkapkan oleh Bligh (1971) dan Sass (1989), motivasi siswa dalam belajar dipengaruhi oleh :

  • ketertarikan siswa pada mata pelajaran.
  • persepsi siswa tentang penting atau tidaknya materi tersebut
  • semangat untuk meraih pencapaian
  • kepercayaan diri siswa
  • penghargaan diri siswa
  • pengakuan orang lain
  • besar kecilnya tantangan
  • kesabaran
  • ketekunan
  • tujuan hidup yang hendak siswa capai.

Masing-masing siswa bisa dipengaruhi oleh faktor yang berbeda. Guru dapat mendorong siswa menjadi pembelajar mandiri yang bermotivasi tinggi melalui tips dan strategi berikut :

1. Menciptakan iklim belajar yang terbuka dan positif dengan menitikberatkan pada kebutuhan siswa saat ini, yaitu memenuhi apa yang menjadi motif awal ketertarikan mereka pada materi pelajaran.

2. Membuat siswa aktif berpartisipasi dalam pembelajaran. Siswa belajar dengan melaksanakan tindakan (doing), membuat (making), menulis (writing), merancang (designing), menciptakan (creating), dan memecahkan persoalan (solving). Kepasifan akan mengurangi motivasi dan keingintahuan siswa.

3. Mengajak siswa untuk menganalisis apa yang membuat kelas menjadi lebih atau kurang termotivasi. Hasil penelitian menyimpulkan setidaknya ada delapan karakteristik yang menjadi kontribusi utama pada motivasi siswa, yaitu :

  • antusiasme guru
  • relevansi materi pelajaran
  • pengaturan pengajaran
  • kesesuaian tingkat kesulitan materi
  • keterlibatan aktif siswa
  • keberagaman
  • hubungan antara guru dan siswa
  • penggunaan contoh yang sesuai, kongkrit dan mudah dipahami

4. Merancang tindakan pengajaran yang dapat memotivasi siswa

  • Membantu siswa merumuskan tujuan mereka
  • Membantu siswa menemukan manfaat dan pentingnya materi yang sedang dipelajari
  • Memperkuat motivasi diri siswa
  • Menghindari suasana kompetesi yang berlebihan antar siswa. Lebih baik mengarahkan siswa ke kompetisi kerja tim
  • Menunjukkan antusiasme Anda sebagai guru pada materi pelajaran

5. Merumuskan RPP yang dapat memotivasi siswa

  • Bertolak dari poin kekuatan dan ketertarikan siswa
  • Jika memungkinkan, memberikan pilihan pada siswa untuk menentukan bagian materi yang akan dibahas lebih mendalam
  • Meningkatkan level kesulitan belajar secara gradual sejalan dengan perkembangan semester
  • Memvariasikan cara Anda mengajar (role playing, debates, brainstorming, discussion, demonstrations, case studies, audiovisual presentations, guest speakers, atau small group work)

6. Mengurangi penekanan ke nilai

  • Memberikan penekanan pada pemahaman dan pembelajaran dibandingkan nilai
  • Menghindari penggunaan nilai sebagai ancaman
  • Merancang test yang mendorong siswa ke jenis pembelajaran yang Anda ingin dicapai oleh siswa. Jika ingin siswa belajar menghapal maka berikanlah soal hapalan. Namun, jika ingin siswa belajar menganalisis dan mengevaluasi, berikanlah soal yang mengarah ke sana.

7. Memotivasi siswa dengan menanggapi hasil kerja mereka

  • Memberikan umpan balik segera pada siswa
  • Memberikan penghargaan atas kesuksesan yang diraih
  • Menginformasikan kesuksesan kerja yang diraih teman mereka
  • Memberikan feedback negatif secara spesifik. Identifikasi kelemahan siswa terkait pada kinerjanya saat pengerjaan tugas, bukan pada siswa secara personal.
  • Menghindari komentar yang merendahkan diri siswa sehingga membuat mereka merasa tidak cakap.

8. Memotivasi siswa untuk membaca

  • Menugaskan siswa membaca materi bacaan setidaknya dua sesi sebelum dilakukan diskusi
  • Menugaskan siswa membuat pertanyaan dari bahan bacaan. sebagai reward, guru dapat mempertimbangkan pertanyaan siswa sebagai bahan ujian.
  • Menugaskan siswa untuk menuliskan beberapa kalimat yang dapat meringkas hasil bacaannya

Uraian di atas mendeskripsikan secara singkat mengenai tips dan strategi memotivasi siswa. Tentunya rekan-rekan guru memiliki pengalaman dan permasalahan yang lebih nyata di lapangan. Semoga tips singkat ini dapat menggungah motivasi guru untuk lebih kreatif dan inovatif dalam melaksanakan tugas mendidik siswa sehingga produk belajar siswa Indonesia bisa lebih kompetitif di tengah persaingan mutu internasional.

SELAMAT MEMOTIVASI SISWA AGAR MEREKA SUKSES DENGAN SUKSES !!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: