Guruku… Ada apa denganmu ??

Terpujilah wahai engkau ibu bapak guru
Namamu akan selalu hidup dalam sanubariku
Semua baktimu akan kuukir di dalam hatiku
Sebagai prasasti terima kasihku
Tuk pengabdianmu

Engkau sabagai pelita dalam kegelapan
Engkau laksana embun penyejuk dalam kehausan
Engkau patriot pahlawan bangsa
Tanpa tanda jasa

Pencipta Lirik dan Lagu : Sartono

Begitu mengharukan semua lirik yang ada pada lagu tersebut. Mungkin setiap kata mempunyai makna yang sangat dalam untuk mengungkapkan betapa mulianya menjadi seorang guru, sesosok makhluk yang selalu mencuri perhatian dan kadang tak terperhatikan oleh kebanyakan orang. Guru yang saya maksud disini tentu saja bukan hanya guru yang berada pada pendidikan formal tapi juga pada pendidikan non formal, karena pada dasarnya kita semua adalah pendidik minimal buat diri kita sendiri.

Saya merasa yakin lagu tersebut diciptakan bukan hanya untuk menyatakan kebanggaan kita terhadap guru saja, karena kalau guru sudah cukup merasa dihargai dengan lagu tersebut tentu tidak akan pernah ada permasalahan tentang pendidikan di negeri ini. Tapi kenyataannya ?? setiap saat, selalu saja ada tragedi tentang permasalahan pendidikan kita, mulai dari kualitas guru, penerapan kurikulum, manajemen sekolah sampai kepada kebijakan pemerintah yang menimbulkan pro dan kontra diantara para pendidik, masyarakat dan anak didik.

Guru adalah ujung tombak dari pelaksanaan pendidikan. Tanpa adanya sosok guru, takkan pernah ada yang namanya proses belajar mengajar, takkan pernah ada yang namanya sistem evaluasi, dan yang pasti takkan ada yang namanya pendidikan. Tugas dari seorang guru sangatlah berat, mulai dari persiapan mengajar, membuat materi ajar sampai kepada melakukan evaluasi belajar dan menganalisisnya untuk mengetahui segala letak kekurangan baik dari anak didik maupun dirinya sebagai pendidik. Maka kalau ada orang yang berniat menjadi guru, mereka adalah orang – orang yang siap bekerja 24 jam sehari dan 7 hari seminggu untuk memikirkan bagaimana membuat kesukseskan dalam pendidikan yang mereka lakukan.

Pujian tentu takkan pernah lepas kalau semua guru melakukan tugas dan fungsinya seperti yang sudah ditetapkan, tetapi sayangnya tidak semua guru mau dan sanggup melakukan semua peran yang dibebankan pada mereka. Inilah guru – guru yang selalu membuat masalah dalam sistem pendidikan negeri ini. Mereka terlalu banyak menuntut hak dan mengabaikan kewajiban mereka, sehinga kadang – kadang hak anak mendapatkan pembelajaran mereka tidak pedulikan. Mereka tidak peduli lagi dengan bagaimana menjadi guru yang profesional dalam hal mendidik anak, tapi mereka hanya peduli sebagai guru profesional yang menuntut gaji, tunjangan dan seabrek fasilitas serta kemudahan baik dari dari sekolah, pemerintah daerah maupun pemerintah pusat.

Adanya oknum guru tidak profesional inilah yang membuat sistem pendidikan dan pelaksanaan pendidikan negeri ini menjadi muram kalau tidak mau dibilang terpuruk. Indonesia yang dulunya mampu “mengajari” para tetangganya sekarang malah belajar dan diajari oleh negara tetangga. Dan lucunya kita merasa sangat bangga kalau sudah belajar dan mendapatkan ijazah dari negeri seberang. Tak ada lagi kebanggaan terhadap pendidikan di negeri sendiri dan selalu membanggakan apa yang mereka dapatkan diluar sana padahal metode dan teknik mengajar itu ada dinegeri ini dan sudah diterapkan oleh para tokoh pendidikan kita semacan KH. Hajar Dewantara dan dilakukan juga oleh para guru yang benar – benar profesional, tetapi itu semua tak terlihat atau tertutupi oleh masalah – masalah yang muncul dalam sistem pendidikan kita yang coba dirusak oleh mereka – mereka yang mengatasnamakan guru profesional.

Tuntutan yang sering didengungkan adalah masalah kesejahteraan guru dan itu selalu tidak pernah terpuaskan walaupun pemerintah sudah memenuhi keinginan mereka. Memang belum terjadi pemerataan kesejahteraan antara guru di kota besar dengan di daerah – daerah, tapi paling tidak kita harus menghargai apa yang sudah diupayakan oleh pemerintah dengan meningkatkan kompetensi kita sebagai pendidik, bukannya selalu memikirkan kompensasi yang harus kita terima dan mengabaikan amanah yang diberikan kepada kita untuk mendidik generasi penerus bangsa ini agar menjadi generasi terpelajar sehingga dapat meningkatkan kualitas bangsa ini dimata dunia.

Para guru harusnya bersyukur (terutama para PNS ),mereka sudah mendapatkan gaji pokok, Tunjangan Pemda, Tunjangan sertifikasi guru ( bagi yang sudah) dan tambahan dari sekolah (kelebihan Jam) yang kalau kita mendapatkan itu semua berkisar pada angka sekitar 7,5 juta. Kesejahteraan yang diterima tentu saja harus diimbangi dengan peningkatan kualitas proses dan hasil pendidikan, sehingga perlu diadakannya standarisasi dalam hasil pendidikan. Dan sampai saat ini standarisasi yang masih cukup relevan adalah diadakannya Ujian Nasional, yang dalam pelaksanaannya mengalami banyak permasalahan.

Kita harus akui pelaksanaan ujian nasional setiap tahun memang penuh dengan kecurangan yang dilakukan mulai dari pendistribusian soal dan kebocoran soal serta beredarnya kunci jawaban yang palsu dan asli hampir di setiap sekolah. Tentu saja kita berharap para guru yang kita anggap “MULIA” tidak melakukan kecurangan ini apalagi megkoordinirnya. Bisa dibayangkan betapa hancurnya harga diri makhluk mulia ini jika melakukan kecurangan. Yang pasti selain mereka tidak amanah tentu saja tidak akan lagi ada rasa hormat para siswa terhadap mereka yang melakukan kecurangan. Itulah yang membuat rusaknya sistem pendidikan negeri ini, karena sang ujung tombak sudah mengalami ketumpulan baik dari segi intelektual maupun rohani. Menyedihkan dan memuakkan…

Ujian Nasional sebagai tolak ukur dalam hasil pendidikan negeri ini memang jauh dari memuaskan berbagai pihak, tapi inilah yang harus kita lakukan demi melihat bagaimana hasil dari pendidikan nasional kita setiap tahunnya. Kita harus selalu berpikiran positif terhadap apa yang ditetapkan oleh pemerintah terhadap pendidikan ini, tentu saja kita imbangi dengan saran dan kritik yang membangun bukannya menyerang balik setiap kebijakan yang dikeluarkan pemerintah. Kadang – kadang ada oknum – oknum yang tidak paham mengenai masalah pendidikan ikut berbicara tentang kebijakan pendidikan  dengan mengeluarkan pernyataan – pernyataan yang provokatif  sehingga membuat permasalahan menjadi melebar kemana – mana.

Yang terpenting bagi kita sebagai pendidik adalah mempersiapkan anak didik kita menjadi pribadi yang mau belajar keras dan tidak lembek menghadapi tantangan, tentu saja dilandasi iman dan taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Inilah yang harus kita lakukan, bukan malah mempermasalahkan tentang pelaksanaan Ujian Nasional yang malah menunjukkan bahwa kita mempnyai “suatu masalah” dalam mendidik anak didik kita. Kita harus berani mengakui bahwa dengan adanya Ujian Nasional kita dapat mengukur kualitas kita sebagai pendidik dan kualitas anak didik kita secara nasional, asalkan Ujian Nasional itu dilaksanakan dengan prinsip “KEJUJURAN”.

Marilah kita berprinsip seperti tokoh pendidikan  dari Ki Hajar Dewantara dengan semboyan

  • Ing Ngarso Sungtulodo
  • Ing Madya Mangunkarso
  • Tut Wuri Handayani

Semboyan itu menggambarkan peran seorang guru atau pendidik dalam dunia pendidikan. Kumpulan peran yang cukup lengkap, yaitu: menjadi teladan, memberikan semangat, dan memberikan dorongan. Luar biasa sebenarnya seorang guru itu, bila dimaknai dan dilaksanakan dengan sungguh-sungguh akan berpengaruh sangat bagus kepada anak didiknya.

Ayolah para guru Indonesia tercinta mari kita tingkatkan kualitas kita dalam mendidik dan fokuslah dalam menggali kreativitas anak – anak didik kita, karena mereka tidak hanya butuh akademik saja melainkan mereka butuh penyaluran hobi dan bakat mereka. Bimbinglah anak – anak kita dengan kasih sayang yang tulus dalam balutan profesional kita sebagai guru, orang tua dan sahabat mereka dalam mewujudkan generasi bangsa yang beriman, berintelektual dan kreatif.

Banggalah menjadi bagian dari sejarah pendidikan Indonesia…

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: