PENGHARGAAN TERHADAP KECERDASAN

Merubah pendapat tentang nilai kecerdasan seseorang ternyata sangatlah susah. Kadang kala kita memiliki suatu persepsi bahwa orang yang cerdas itu adalah orang yang menguasai bahasa Inggris, jago di bidang matematika atau bidang yang berhubungan dengan hitungan lainnya ataupun bidang akademis saja.

Paradigma seperti ini sangatlah mengakar kuat dalam budaya bangsa Indonesia. Banyak sekali seseorang memandang remeh pada orang lain (menganggap bodoh) karena orang tersebut tidak menguasai bidang-bidang akademis.

Hal ini sangatlah wajar…apabila ditinjau dari sistem pendidikan di Indonesia yang lebih menghargai fungsi dan peran otak kiri ( otak logika ) daripada otak kanan ( otak perasaan ).

Mungkin seseorang ahli “statistik” di perempatan jalan pada saat lampu merah akan menganggap remeh seorang pengamen yang sedang melantunkan lagu sambil memainkan gitarnya. “Nah … inilah kalau tidak punya pendidikan tinggi… bisanya cuma nyanyi sambil genjrang-genjreng doang….”. Atau seorang arsitek akan memandang remeh seorang petinju yang dilihatnya dilayar televisi… karena hanya bisa pukul memukul saja.

Hal ini diakibatkan terlalu bangganya seseorang terhadap kemampuan yang dimiliki tanpa tahu sebenarnya pengamen dan petinju itu ternyata memiliki tingkat kecerdasan yang lebih unggul dari pada si ahli komputer atau si arsitek tadi.

Pengamen memiliki kecerdasan dalam hal musik, sedangkan petinju memiliki kecerdasan kinetis. Ahli statistik memiliki kecerdasan matematis, dan si arsitek punya kecerdasan spasial. Si ahli komputer tidak secerdas Inul dalam menggoyangkan tubuhnya, dan Inul-pun tak mungkin bersaing dengan si ahli statistik. Demikian pula arsitek tersebut tak mungkin bisa memainkan gitarnya secanggih Balawan meski Balawan tak akan mampu membuat rancang bangun seindah si arsitek.

Jadi mana yang lebih cerdas? Mana yang lebih pandai? Tidak ada…. Karena tiap manusia pasti memiliki tingkat kecerdasan yang berbeda-beda bidangnya. Paling tidak telah terpetakan beberapa kecerdasan dari manusia, antara lain kecerdasan matematis ( dalam hal hitung-menghitung/ ahli matematika ), kecerdasan visual (dalam hal membuat suatu tampilan berdasarkan imajinasi yang dimiliki/ seniman seni rupa ataupun sutradara), kecerdasan kinetis ( dalam hal mengolah gerak tubuh/ jago tari atau olahragawan ), kecerdasan musik (dalam hal musik/ pemain musik ), kecerdasan linguistik (dalam hal berbahasa/ ahli pidato), kecerdasan interpersonal ( yaitu dalam hal berhubungan dengan orang lain/ sales ), kecerdasan intrapersonal ( dalam hal berfikir secara filsafati/ pemikir atau peneliti ), kecerdasan naturalis (dalam hal yang berkaitan dengan masalah alam dan lingkungan/ ahli landscape ), kecerdasan spasial (berkaitan dengan masalah tata ruang /arsitek).

Kelemahan yang terbanyak dari orang tua adalah seringkali memberikan arah yang memaksa pada perkembangan kecerdasan anak. Seorang anak sering dimarahi karena tidak bisa berhitung dengan baik, tetapi si orang tua tak pernah memuji si anak saat ia bisa melantunkan suatu lagu dengan sangat merdu. Hal ini…kembali lagi disebabkan karena persepsi yang salah dalam hal menilai kecerdasan seseorang.

Kalau paradigma tentang persepsi kecerdasan ini tidak diubah…maka yang terjadi adalah terjadi suatu pembedaan tingkat antara orang yang satu dengan yang lain. Hal ini juga menyebabkan perbedaan penghargaan antara orang satu dengan orang yang lain… karena ada orang yang dianggap cerdas…ada yang dianggap bodoh.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: