PEMIMPIN YANG MENSEJAHTERAKAN BAWAHAN

Hidup manusia selalu berkembang dari waktu ke waktu. Seiring dengan itu, manusia semakin memiliki banyak kebutuhan sehingga memungkinkan pula meningkatnya kemakmuran yang diraihnya. Dalam kaitan ini, perlulah kita contoh usaha Kahlifah Umar Bin Khattab untuk menaikkan gaji para bawahannya, baik yang berada di Madinah maupun di luar kota Madinah. Namun, yang sangat mengherankan sekaligus mengagumkan adalah Umar tidak menaikkan gaji untul dirinya sendiri.

Tentu hal ini sangat bertolak belakang dengan apa yang terjadi pada saat ini, dimana semua pejabat maupun pemimpin berusaha memakmurkan atau mencari kekayaan untuk kepentingan diri sendiri tanpa memperhatikan kesejateraan anak buahnya. Para bawahan dipaksa bekerja dengan tekanan dan selalu diminta untuk loyalitas kepada perusahaan atau lembaga tapi gaji atau upah yang diberikan tidak sesuai dan tidak dapat mensejahterakan keluarga mereka. Sedangkan para pemimpin dengan kekuasaan yang  mereka miliki berusaha mendapatkan tunjangan-tunjangan yang berlebihan dengan prinsip “mumpung masih menjabat.”

Bahkan yang lebih memilukan lagi ketika para pemimpin tidak lagi menghargai kerja keras, kemampuan, dan tingkat pendidikan dari anak buahnya atau bawahannya. Gaji para bawahan ditentukan dengan seenaknya sesuai dengan selera pemimpin. Selalu kalimat “tidak loyalitas” atau “mata duitan” yang dikemukakan oleh pemimpin dzalim ini ketika para bawahan meminta haknya atau kenaikan gaji yang sesuai.

Khalifah Umar pernah berkata kepada Hafsah (anaknya) yang merupakan istri Rasulullah, bahwa perumpamaan Umar dengan kedua sahabatnya, yaitu Rasulullah dan Abu Bakar seperti tiga orang sahabat yang menempuh satu jalan. Yang pertama dan yang kedua telah lewat dengan membawa bekal dan sampai dirumah-NYA, maka sekiranya orang ketiga yaitu aku (Umar) melalui jalan yang sama serta rela membawa bekal yang menjadi hak miliknya maka akan dapat menyusul kedua sahabatnya.

Begitu mulianya Umar, sampai ia berprinsip “Bila rakyat lapar, akulah yang pertama merasakannya. Sementara bila rakyat kenyak, akulah yang terakhir merasakannya.”

Sumber :

Yani, Ahmad. 2012. Beginilah Seharusnya Menjadi Pemimpin. Jakarta : Khairu Ummah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: