PEMIMPIN YANG MELAYANI ATAU DI LAYANI

corporate_climb_up_sm_wm“Ibn Umar RA. berkata, ‘Saya telah mendengar Rasulullah SAW. bersabda, setiap orang adalah pemimpin dan akan diminta pertanggungjawaban atas kepemimpinannnya. Seorang kepala negara akan diminta pertanggungjawaban perihal rakyat yang dipimpinnya. Seorang suami akan ditanya perihal keluarga yang dipimpinnya. Seorang istri yang memelihara rumah tangga suaminya akan ditanya perihal tanggung jawab dan tugasnya. Bahkan, seorang pembantu/pekerja rumah tangga yang bertugas memelihara barang milik majikannya juga akan ditanya dari hal yang dipimpinnya. Dan kamu sekalian pemimpin dan akan ditanya (diminta pertanggunganjawaban) dari hal hal yang dipimpinnya’.” (HR Bukhari dan Muslim)

Ketika kita berbicara tentang pemerintahan, masyarakat, dan kondisi sekarang ini, banyak para pemimpin yang lupa dengan janji-janji dan amanat yang diberikan kepada mereka, yaitu untuk mensejahterakan dan mencerdaskan rakyatnya, namun hanya mensejahterakan kelompok dan keluarganya saja dan membiarkan rakyatnya hidup dibawah garis kemiskinan dan kebodohan. Bukankan Allah telah mengutus kepada kita seorang rasul dan diturunkan kepadaanya sebuah kitab dan diperintahkannya untuk menyampaikan ciri, dan ajaran agama ini. Sungguh bahwa hanya risalah ini, yaitu risalah Islam benar-benar penyelamat bagi manusia dan mengeluarkan mereka dari masa kegelapan dan kejahiliyahan ke masa yang terang benderang, ke jalan Allah SWT yang terpuji.  Sebagaimana firman-Nya dalam Al-Qur’an

“Dialah yang menurunkan ayat-ayat yang terang (Al-Qur’an) kepada hamba-Nya (Muhammad) untuk mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya”. (QS. Al-Hadid : 9)

Wahai ahli kitab! Sungguh rasul kami telah datang kepadamu, menjelaskan kepadamu banyak hal dari isi kitab yang kamu sembunyikan, dan banyak pula yang dibiarkannya, sungguh telah datang kepadamu cahaya dari Allah dan kitab yang menjelaskan. Dengan kitab itulah Allah memberi petunjuk kepada orang yang mengikuti keridaan-Nya kejalan keselamatan, dan dengan kitab itu pula Allah mengeluarkan orang itu dari gelap gulita kepada cahaya dengan izin-Nya, dan menunjukan ke jalan yang lurus”. (QS. Al-Maidah: 15-16)

Pemimpin dengan kepemimpinannya memegang peran yang strategis dan menentukan dalam menjalankan roda organisasi, menentukan kinerja suatu lembaga dan bahkan menentukan mati hidup atau pasang surutnya kehidupan suatu bangsa dan negara. Ia merupakan suatu kebutuhan yang tidak dapat dibuang atau diabaikan (sine qua non) dalam kehidupan suatu organisasi atau suatu bangsa dalam mencapai tujuan yang telah ditentukan. Baik atau buruknya kondisi suatu organisasi, bangsa dan negara, banyak ditentukan oleh kualitas pemimpinnya dan kepemimpinan yang dijalankannya.

Setiap diri kita pemimpin apalagi pemimpin formal, seperti gubernur, wakil gubernur, dan bupati/wali kota. Konsekuensi seorang pemimpin adalah melayani masyarakat, bukan malah sebaliknya. Pakar kepemimpinan Eugene B Habecker menyatakan, “Pemimpin sejati melayani. Melayani orang-orang. Melayani minat terbaik mereka. Dalam memimpin, mereka tidak selalu bertindak populer, dan tidak juga selalu mengesankan. Tetapi pemimpin sejati selalu dimotivasi oleh kepedulian kasih dibandingkan hasrat kejayaan pribadi dan mereka pun bersedia membayar harganya.”

Hal yang melekat pada seorang pemimpin adalah kewenangan yang kerap dimaknai sebagai hak untuk memerintah. Padahal, memimpin yang efektif bukanlah memerintah anak buah maupun masyarakat. Kalau pemimpin sebatas memerintah, semua orang pun bisa melakukan hal itu jika diberi kekuasaan.

Memimpin yang efektif adalah sebuah seni melayani yang lebih banyak menggunakan otak kanannya daripada otak kiri. Kita sayangkan para pemimpin kita lebih banyak memakai otak kiri sehigga gaya pemimpinnya cenderung rasional, kaku, njlimet, dan tak memudahkan urusan.

Siti Aisyah RA. berkata, “Saya telah mendengar Rasulullah bersabda di rumahku ini, “Ya Allah siapa yang menguasai sesuatu dari urusan umatku, lalu mempersukar pada mereka, maka persukarlah baginya. Dan siapa yang mengurusi umatku lalu berlemah lembut pada mereka, maka permudahlah baginya.” (HR Muslim)

Pemimpin itu harus melayani orang lain dengan melakukan potensi, kewenangan, maupun kekuasaan yang dimilikinya. Dia bersedia menyingsingkan lengan baju untuk bekerja sehingga otomatis akan menjadi contoh bagi karyawan atau masyarakatnya. Dengarkan aspirasi karyawan dan warga serta berempatilah pada mereka. Empati akan menimbulkan rasa hormat mereka terhadap pemimpin.

Seorang pemimpin juga sekaligus mentor atau pembimbing bagi anak buah dan masyarakatnya. Mentor bertugas membuat orang lain menjadi lebih baik lagi kehidupannya. Kesalahan pemimpin ketika lebih sering mengedepankan emosi karena merasa memiliki kekuatan dan kekuasaan.

Kepemimpinan pada hakikatnya adalah suatu seni (art) dan ilmu (science) untuk mempengaruhi orang lain, atau orang-orang yang dipimpin sehingga dari orang-orang yang dipimpinnya timbul suatu kemauan, respek, kepatuhan dan kepercayaan terhadap pemimpin untuk melaksanakan apa yang dikehendaki oleh pemimpin, atau tugas-tugas dan tujuan organisasi, secara efektif dan efisien. Seni kepemimpinan mengandung arti suatu kecakapan, kemahiran dan keterampilan tertentu untuk mempengaruhi orang-orang yang dipimpin. Sedangkan ilmu kepemimpinan mengandung sejumlah ajaran atau teori kepemimpinan yang telah dibuktikan dengan pengalaman, yang dapat dipelajari atau diajarkan.

Fungsi pemimpin adalah untuk menggerakkan para pengikut agar mereka mau mengikuti atau menjalankan apa yang diperintahkan atau dikehendaki pemimpin. Hubungan antara pemimpin dengan orang-orang yang dipimpinnya bersifat pembimbingan, pemberian arah, pemberian perintah / instruksi, pemberian motivasi (dorongan) dan pemberian teladan untuk mempengaruhi orang-orang yang dipimpinnya. Secara singkat dapat dikatakan bahwa : pemimpin adalah pengaruh.

Setiap manusia termasuk pemimpin hanya punya dua pilihan ketika bicara emosi. Mengendalikan emosi atau justru sebaliknya dikendalikan oleh emosi. Nabi Muhammad SAW. menyatakan selepas meraih kemenangan dari Perang Badar yang terjadi pada bulan Ramadhan ketika 300 pasukan Muslim harus menghadapi sekitar 1,000 pasukan kafir bahwa Perang Badar merupakan perang kecil. Ada perang yang jauh lebih besar yakni perang untuk mengendalikan emosi (hawa nafsu).

Bekal pemimpin lainnya adalah harus berani untuk melakukan inovasi, terobosan, maupun ide-ide cemerlang lainnya. Jawa Barat merupakan wilayah besar sehingga membutuhkan para pemimpin yang berani keluar dari kebiasaan. Banyak orang yang ingin sukses, tetapi hanya sedikit yang berani mengambil risiko.

Larry Osborne pernah mengatakan, “Hal paling mencengangkan dari para pemimpin yang paling efektif adalah betapa sedikitnya persamaan dalam diri mereka. Tetapi ada satu sifat menonjol yang mudah dikenali yaitu kesediaan mereka menempuh risiko.”

Kepemimpinan yang melayani (Servant Leadership) merupakan suatu tipe atau model kepemimpinan yang dikembangkan untuk mengatasi krisis kepemimpinan yang dialami oleh suatu masyarakat atau bangsa. Para pemimpin-pelayan (Servant Leader)mempunyai kecenderungan lebih mengutamakan kebutuhan, kepentingan dan aspirasi orang-orang yang dipimpinnya di atas dirinya. Orientasinya adalah untuk melayani, cara pandangnya holistik dan beroperasi dengan standar moral spiritual.

Kepemimpinan yang melayani memiliki kelebihan karena hubungan antara pemimpin(leader) dengan pengikut (followers) berorientasi pada sifat melayani dengan standar moral spiritual. Pemimpin-pelayan mempunyai tanggung jawab untuk melayani kepentingan pengikut agar mereka menjadi lebih sejahtera, sebaliknya para pengikut memiliki komitmen penuh dalam bekerja untuk mencapai tujuan organisasi dan keberhasilan pemimpin. Kepemimpinan yang melayani dapat diterapkan pada semua bidang profesi,  organisasi, lembaga, perusahaan (bisnis) dan pemerintahan karena kepelayanan bersifat universal.

Beberapa ciri dan keutamaan kepemimpinan yang melayani yang harus melekat pada diri seorang pemimpin-pelayan adalah sebagai berikut :

  1. 1.        Memiliki Visi Pemimpin. Visi adalah arah ke mana organisasi dan orang-orang yang dipimpin akan dibawa oleh seorang pemimpin. Pemimpin ibarat seorang nakhoda yang harus menentukan ke arah mana kapal dengan penumpangnya akan diarahkan. Visi sama pentingnya dengan navigasi dalam pelayaran.
  2. 2.        Orientasi pada Pelayanan. Pemimpin-pelayan berorientasi pada pelayanan, bukan untuk mencari pujian atau penghormatan diri. Sikap melayani terutama ditujukan untuk mereka yang paling membutuhkan pelayanan. Ia harus berpihak kepada mereka yang secara sosial ekonomi, pendidikan dan sosial budaya membutuhkan pelayanan lebih besar.
  3. 3.        Membangun Kepengikutan (Followership). Pemimpin-pelayan mengutamakan terciptanya kepengikutan (followership) karena dalam kenyataannya keberhasilan organisasi lebih banyak ditentukan oleh para pengikut atau para pemimpin di bawahnya. Penelitian yang dilakukan Profesor Robert E. Kelley, pelopor pengajaranFollowership and Leadership dari Carnegie-Mellon Unversity, menunjukkan bahwa keberhasilan organisasi 80 persen ditentukan oleh para pengikut (followers) dan 20 persen merupakan kontrubusi pemimpin (leader). 
  4. 4.        Membentuk Tim dan Bekerja dengan Tim. Pemimpin-pelayan harus membentuk tim (team work) dan bekerja dengan tim tersebut. Ia meminta tim untuk mengikutinya, menjelaskan visi dan misi, serta mempercayakan timnya untuk bekerja. Pemilihan anggota tim atau staf/pembantu sangat penting agar ia dapat berhasil mencapai tujuan dengan efektif dan efisien.
  5. 5.        Setia pada Misi. Kalau visi adalah arah ke depan ke mana bahtera organisasi akan dibawa, maka misi adalah bagaimana menjalankan tugas-tugas untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan. Pemimpin membuat rencana-rencana yang dikaitkan dengan jangka waktu tertentu, program-program kerja serta perangkat lain yang membantunya dalam menjalankan misi.
  6. 6.        Menjaga Kepercayaan. Menjadi pemimpin adalah menerima kepercayaan dari Tuhan Yang Mahakuasa melalui organisasi atau pemerintah untuk memimpin rakyat. Pemimpin adalah orang-orang pilihan di antara sejumlah orang-orang lain dan pilihan itu didasarkan pada beberapa kelebihan tertentu yang menyebabkan ia dipercaya untuk menjadi pemimpin.
  7. 7.        Mengambil Keputusan. Keputusan pemimpin adalah kekuatan dalam memimpin dan mengelola organisasi. The power to manage is the power to make decision.Seorang pemimpin-pelayan harus berani mengambil keputusan yang membuktikan keberpihakannya pada rakyat kecil.
  8. 8.        Melatih dan Mendidik Pengganti. Melatih dan mendidik pengganti (membentuk kader ) merupakan kewajiban seorang pemimpin. Seharusnya ada beberapa lapisan kader pengganti apabila pemimpin berhalangan atau memasuki masa purnatugas. Bertambahnya usia seorang pemimpin mengakibatkan kemampuan fisik dan daya pikirnya berkurang dan proses regenerasi tidak dapat dihindari.
  9. 9.        Memberi Tanggung Jawab. Memberi tanggungjawab kepada bawahan adalah memberi kesempatan kepadanya untuk berkembang dan tentu saja mengawasi serta kemudian meminta pertanggungjawaban. Membuat orang bertanggungjawab adalah memberi mereka kesempatan menggapai keberhasilan, dan hal itu dimulai dari hal-hal yang kecil.
  10. 10.    Memberi Teladan. Ada pendapat bahwa anak-anak lebih banyak belajar dari apa yang mereka lihat, ketimbang apa yang mereka dengar. Buku-buku panduan dan buku instruksi tidak dapat secara langsung membangun kultur organisasi pada anggota. Pemimpin memberi teladan dengan apa yang mereka lakukan. Sesudah itu ia menganjurkan pengikutnya untuk melakukan apa yang diteladaninya, dan kemudian mengharuskan mereka mengikuti teladan itu.
  11. 11.    Menyadari Pentingnya Hubungan / Komunikasi. Begitu pentingnya komunikasi antara pemimpin dan yang dipimpin sehingga dapat dikatakan bahwa komunikasi adalah urat nadinya kepemimpinan. Komunikasi sangat menentukan tingkat keefektifan kepemimpinan seorang pemimpin. Kegagalan dalam berkomunikasi atau miskomunikasi dalam kepemimpinan ibarat urat nadi darah yang tersumbat sehingga orang menjadi sakit.

Pemimpin yang baik, mengabdi dan melayani masyarakat, bukan pemimpin yang zalim, dan korup. Sebagaimana dicontohkan oleh khalifah pertama Abu Bakar Assidiq ketika mengemban amanat menjadi seorang khalifah, beliau masih tetap berdagang pakaian, maka ketika beliau bertemu dangan Umar bin khatab, kemudian umar menyampaikan bahwa Abu Bakar sudah meniggalkan kewajibannya melayani kaum muslimin, karena disibukkan dengan dagangannya, kalau saja seekor kuda terjatuh di Irak Allah akan meminta pertanggung jawabanmu. lalu Abu Bakar berkata :”kalau aku tidak berdagang siapa yang akan memberi makan anak dan istriku”. Kemudian Umar menjawab :” kaum muslimin yang akan memberi makan mereka”, Abu Bakar berkata “siapa yang akan mengatakan hal ini kepada kaum muslimin” “aku”yang akan mengatakannya kata Umar, kemudian Umar mengumpulkan kaum muslimin  lalu Abu Bakar berkhutbah:  “Dulu aku bekerja dan berniaga untuk menafkahi anak istriku sekarang aku bekerja untuk kemashlahatan kalian, maka berikanlah aku dari baitul maal, dan kaum muslimin pada saat itu mengatakan kami ridhai sebagaimana Rasulullah SAW meridhainya.

Dan ketika beliau akan mendekati kematian beliau berkata kepada putrinya: “Wahai  Aisyah aku pernah meminjam ketel dan jaket dari baitul maal, maka kembalikanlah  itu semua ke baitu maal”.

DAFTAR PUSTAKA

  1. C. Maxwell, John, 2001, Mengembangkan Kepemimpinan di Sekeliling Anda, Jakarta : Mitra Media.
  2. Laurie Beth Jones, 1997, Yesus Chief Executive Officer, Penerbit Mitra Utama.
  3. Lembaga Ketehanan Nasional.2001. Kepemimpinan Nasional. Jakarta.
  4. Liliweri, Alo. 2001. Gatra-Gatra Komunikasi Antarbudaya. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.
  5. Luis Gonzales-Balado, Jose. 2002. Mother Teresa in My Own Words. Jakarta.
  6. Musakabe, Herman. 2001. Pemimpin dan Krisis Multidimensi, Etika dan Moralitas Kepemimpinan. Yayasan Citra Insan Pembaru.
  7. Musakabe, Herman. 2004. Mencari Kepemimpinan Sejati, di Tengah Krisis dan Reformasi. Jakarta : Penerbit Citra Insan Pembaru.
  8. Nanus, Burt. 2001. Kepemimpinan Visioner. Jakarta : PT Prenhallindo.
  9. Seda, Frans, 1996. Kekuasaan dan Moral, Politik Ekonomi Masyarakat Indonesia Baru. Jakarta : Gramedia Widiasarana Indonesia.
  10. Soedarsono, Soemarno. 2000. Penyemaian Jati Diri, Menepis Krisis Identitas. Jakarta : Elex Media Komputindo.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: