PERMASALAHAN GAJI (UPAH) YANG SERING TERABAIKAN…

business_line_PA_sm_wmSegala puji bagi Allah Yang Maha Rahman dan Rahiim. Shalawat serta salam kita sampaikan kepada manusia paripurna, manusia yang patut menjadi contoh,  junjungan mulia Nabi Muhammad SAW keluarga serta para sahabat dan pengikut yang istiqamah hingga ke hari kiamat.

Di dalam kehidupan mencari nafkah adalah salah satu tuntutan agama. Bekerja untuk mencari dan memberi nakah kepada keluarga dapat diibaratkan seperti berjihad dijalan Allah SWT. Setiap muslim harus memastikan bahwa pekerjaan yang dilakukan adalah pekerjaan yang halal supaya hasil (gaji) yang akan diperolehnya juga halal.

Jika bekerja ditempat yang tidak ada perkara-perkara haram , syubahat dan tidak menimbulkan fitnah maka Islam sangat menganjurkannya. Jika bekerja ditempat yang dimana majikannya tidak memberika waktu untuk sholat fardhu dilakukan maka seorang muslim dilarang mencari nafkah ditempat tersebut karena bumi Allah SWT luas dan rezeki Allah SWT ada dimana-mana dan tidak hanya di satu-satu tempat saja.

Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam bersabda:

“Janganlah merasa rezeki datangnya terlambat, karena sesungguhnya seseorang sekali-kali tidak akan meninggal dunia sehingga ia sampai pada jatah rezekinya yang terakhir. Maka carilah nafkah dengan cara yang baik, yaitu dengan mengambil yang halal dan meninggalkan yang haram.”(Hadis Riwayat Al-Hakim II/IV no.2134, dan Ibnu Hibban VIII/33 no.3241, dan dinyatakan Sahih oleh syaikh Al-Albani di dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shohihah VI/108 no.2607, dan Shohih At-Targhib wa At-Tarhib II/143 no.1697).

Rasulullah SAW bersabda:”Berikanlah upah kepada pengambil upah (orang yang bekerja) sebelum kering peluhnya” (Hadis Riwayat Ibn Majah)

Berdasarkan hadis di atas jelaslah bahwa jika kita menjadi majikan dan ada orang yang bekerja dengan kita maka janganlah kita mengabaikan gaji atau upah yang sepatutnya diberikan kepadanya. Berdosa besar jika majikan menipu dengan tidak memberikan hak bayaran sepatutnya. Nabi SAW menyuruh disegerakan upahnya yaitu sebelum kering peluhnya.

Bayangkan jika sehari saja tidak dibayar upahnya sudah mendapat dosa besar bagimana  jika majikan tidak membayar gaji pekerjanya selama sebulan atau mungkin berbulan-bulan lamanya maka dosa yang akan ditanggung dihari akhirat nanti berlipat kali ganda. Di akhirat nanti ketika itu tidak ada uang atau harta tetapi bayarannya adalah dengan pahala sholat, puasa dan zakat yang dimiliki oleh majikan yang tidak membayar gaji tersebut jika tidak cukup dengan pahala maka seseorang boleh menjadi muflis.

Bekerja adalah senjata utama untuk memerangi kemiskinan, modal dalam mencapai kekayaan dan faktor dominan dalam mencipta kemakmuran hidup. Seseorang dituntut supaya ridha dengan pekerjaannya dan menjalankan tugas yang telah diamanahkan dengan tekun untuk menjamin kebersihan upah yang diterima daripada pekerjaannya tersebut. Maka dalam melakukan pekerjaan hendaklah diniatkan karena Allah.

Terdapat sekurang-kurangnya 3 jenis balasan bagi mereka yang pekerjaannya menjadi ibadah yaitu:

1.mendapat balasan dalam bentuk material (gaji)

2.mendapat balasan dalam bentuk kepuasan kerana dapat menyiapkan atau menyelesaikan kerjanya

3.mendapat pahala untuk bekal di hari akhirat.

Dalam konteks hubungan majikan-pekerja, Islam melihat bahwa pekerja itu bukanlah sebagai hamba kepada manusia lain untuk menghasilkan sesuatu karena penghambaan hanya dikhususkan untuk Allah S.W.T. Hendaklah ada keadilan antara majikan dan pekerja di mana gaji yang diberi hendaklah setimpal dengan kerja serta tanggungjawab yang dipikul oleh pekerja tersebut.

Dalam riwayat yang lain Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wa Sallam pernah bersabda:“Tiga orang yang Aku musuhi pada hari kiamat nanti adalah orang yang telah memberi karena Aku lalu berkhianat dan orang yang membeli barang pilihan lalu dia makan kelebihan harganya serta orang yang mengupah pekerja kemudian pekerja tersebut menunaikan akadnya sedangkan upahnya tidak diberikan” (Hadis Riwayat Bukhari)

Dalam Surah Al-Kahfi ayat 77 menceritakan perihal upah:“ “Kemudian mereka dapati di situ sebuah tembok yang hendak runtuh, lalu dia membinanya. Nabi Musa berkata: Jika engkau mau, tentulah engkau berhak mengambil upah mengenainya”.

Ayat ini menunjukkan harus mengambil upah di atas pembinaan tembok berkenaan yaitu satu kerja yang telah dibuat. Ulama Islam telah sepakat bahawa upah daripada kerja wujud dalam perundangan Islam. Ini disebabkan manusia diciptakan Allah SWT mempunyai kelebihan dan kepandaian yang berbeda-beda.

Dalam Surah Al-Talaq ayat 6, Allah SWT mengingatkan untuk memberi upah kepada wanita penyusu bayi. Jika harus memberi upah dalam penyusuan maka sudah tentu dikiaskan juga kepada perkara yang lain dalam kehidupan manusia.

Upah yang baik dapat mendorong individu menjadi lebih kreatif, berfikir dan bersungguh-sungguh bekerja dan akhirnya meningkatkan produktivitas mereka. Tanpa upah yang sesuai, sudah tentu mereka akan membawa masalah dalam pelaksanaan pekerjaannya, sehingga yang merugi adalah majikannya sendiri.

Jika kita sebagai majikan dan mempunyai pekerja yang bekerja untuk kita maka pastikan pekerja tersebut tidak dizalimi oleh kita dengan keengganan kita membayar upah atau gaji mereka sesuai dengan pekerjaannya . Jika perbuatan ini berlaku maka  hidup kita tidak akan barokah dan akan mendapatkan kemurkaan Allah SWT di dunia dan akhirat. Islam mewajibkan untuk segera membayarkan upah atau gaji dan berikanlah sedekah jika majikan dengan sukarela memberi tambahan upah kepada pekerjanya yang telah melakukan pekerjaan dengan baik.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: