Mengelola Konflik dalam Organisasi

brainstorm_conference_PA_sm_wmKonflik biasanya timbul dalam organisasi sebagai hasil adanya masalah-masalah komunikasi, hubungan pribadi, atau struktur organisasi. Konflik organisasi adalah ketidak sesuaian antara dua atau lebih anggota-anggota/kelompok-kelompok organisasi yang timbul karena adanya kenyataan bahwa mereka harus membagi sumber daya-sumber daya yang terbatas atau kegiatan-kegiatan kerja atau karena kenyataan bahwa mereka mempunyai perbedaan status, tujuan, nilai atau persepsi.

Konflik dalam organisasi terjadi dalam berbagai bentuk dan corak, yang merentasi hubungan individu dengan kelompok ataupun kelompok yang lebih besar. Berhadapan dengan orang-orang yang mempunyai pandangan yang berbeda sering berpotensi terjadinya pergesekan, sakit hati dan lain-lain. Sebagai individu sering terjebak dalam kancah konflik yang berkepanjangan, terutama antara karyawan yang karena tugas selalu berhubungan satu sama lain. Meskipun ketergantungan dan interaksi antar individu dalam melaksanakan tugas merupakan suatu hal yang lumrah dalam suatu perusahaan. Dikatakan konflik sebagai suatu hal yang tidak dapat dihindari dalam kehidupan manusia, akan tetapi dapat diselesaikan dan diredakan pada tahap yang paling minimum dan tidak mengganggu kelancaran jalannya perusahaan/lembaga, sebagaimana firman Allah SWT dalam surah Shaad (38: 24):

Daud berkata: “Sesungguhnya dia Telah berbuat zalim kepadamu dengan meminta kambingmu itu untuk ditambahkan kepada kambingnya. dan Sesungguhnya kebanyakan dari orang-orang yang berserikat itu sebahagian mereka berbuat zalim kepada sebahagian yang lain, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh; dan amat sedikitlah mereka ini”. dan Daud mengetahui bahwa kami mengujinya; Maka ia meminta ampun kepada Tuhannya lalu menyungkur sujud dan bertaubat.

 

Dilihat dari sisi bahasa, konflik dapat diartikan dengan perbedaan; pertentangan dan perselisihan. Konflik merupakan masalah yang serius dalam setiap organisasi, yang mungkin tidak menimbulkan kematian tetapi pasti dapat merugikan kinerja suatu organisasi maupun mendorong kerugian bagi banyak karyawan yang baik. Selain itu konflik dapat pula diartikan dengan perbedaan, pertentangan dan perselisihan. Dalam istilah Al-Qur’an, konflik itu sinonim dengan kata “ikhtilaf“ yang terdapat dalam  Al-Qur’an Surat al- Baqarah (2 : 213) berikut ini:

 Manusia itu adalah umat yang satu. (Setelah timbul perselisihan), maka Allah mengutus para nabi sebagai pemberi kabar gembira dan pemberi peringatan, dan Allah menurunkan bersama mereka Kitab dengan benar, untuk memberi keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan. Tidaklah berselisih tentang Kitab itu melainkan orang yang telah didatangkan kepada mereka Kitab, yaitu setelah datang kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata, karena dengki antara mereka sendiri. Maka Allah memberi petunjuk orang-orang yang beriman kepada kebenaran tentang hal yang mereka perselisihkan itu dengan kehendak-Nya. Dan Allah selalu memberi petunjuk orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus. [Al- Baqarah ( 2: 213)]

Konflik bisa mempunyai konotasi positif maupun negatif, tergantung pada cara kita memandang hakikat konflik dan pengaruhnya terhadap efektivitas pencapaian tujuan organisasi.

Konotasi Negatif

  1. Penghamburan tenaga
  2. Menurunkan semangat kerka
  3. Memilah-milahkan kelompok dan anggota-anggotanya
  4. Mempertajam perbedaan
  5. Merusak kerja sama
  6. Menimbulkan kecurigaan dan ketidakpercayaan
  7. Mengurangi produktivitas

Konotasi Positif

  1. Permasalahan yang ada menjadi terbuka dan jelas
  2. Memperbaiki kualitas pemecahan masalah
  3. Meningkatkan keterlibatan para anggota
  4. Memberikan kesempatan berkomunikasi  secara spontan
  5. Menciptakan pertumbuhan dan penguatan hubungan
  6. Meningkatkan produktivitas

Biasanya ada empat hal yang sering dipermasalahkan oleh pihak-pihak yang terlibat dalam konflik yaitu:

  1. Fakta, situasi atau masalah yang ada pada saat itu.
  2. Metode, cara terbaik untuk mencapai tujuan.
  3. Tujuan, apa yang seharusnya ingin dicapai , dan
  4. Nilai, dukungan baik kualitas maupun tujuan jangka panjang.

 

Dengan demikian suatu konflik terjadi, apabila dalam kenyataan menunjukkan  timbulnya berbagai gejala sebagai berikut :

  1. Paling tidak  ada dua pihak secara perseorangan maupun kelompok terlibat dalam suatu interaksi yang berlawanan.
  2. Adanya saling pertentangan dalam mencapai tujuan, dan atau adanya suatu norma atau nilai-nilai yang saling berlawanan.
  3. Adanya interaksi yang berbeda dengan perilaku yang direncanakan untuk saling meniadakan, mengurangi, dan menekan terhadap pihak lain untuk memperoleh kemenangan seperti: status, tanggung jawab, pemenuhan kebutuhan dan sebagainya.
  4. Adanya tindakan yang saling berhadap-hadapan akibat pertentangan.
  5. Adanya ketidak seimbangan akibat usaha masing-masing pihak yang berkaitan dengan kedudukan atau kewibawaan, harga diri, dan sebagainya.

 

Konflik bukan merupakan karena kelemahan organisasi atau bukti kegagalan pimpinannya, karena konflik, seperti halnya rasa sakit, merupakan pertanda bahwa suatu organisasi sedang berada dalam atau sedang berdiri di ambang kesulitan. Suatu organisasi atau sistem sosial yang berusaha menekan adanya konflik, melarang pengungkapan perbedaaan pendapat, kehilangan umpan balik untuk memperbaiki diri dan menciptakan stabilitas. Kendatipun demikian, para pemimpin perlu memahami beberapa hal yang dapat menimbulkan konflik, terutama untuk mendapatkan manfaat dalam menanganinya dan untuk menarik keuntungan, dalam menciptakan perilaku organisasi yang berguna bagi peningkatan efektifitas organisasi.

Ada tiga metode penyelesaian konflik yang sering digunakan, yaitu dominasi atau penekanan, kompromi, dan pemecahan masalah integratif, sebagaimana firman Allah SWT dalam surah al Mu’minuun (23: 96):

Tolaklah perbuatan buruk mereka dengan yang lebih baik. kami lebih mengetahui apa yang mereka sifatkan.

Maksud ayat (23: 96) di atas bahwa perkataan-perkataan dan perbuatan-perbuatan kaum musyrikin yang tidak baik itu hendaklah dihadapi oleh nabi dengan yang baik, umpama dengan memaafkannya, asal tidak membawa kepada kelemahan dan kemunduran dakwah.

Bila dengan metode-metode tersebut seorang pimpinan tidak mampu mengatasi sendiri konflik yang sedang timbul, maka pimpinan bisa menggunakan tenaga eksternal sebagai penengah atau mediator. Hal ini karena pimpinan tidak selamanya dapat menggunakan kekuasaan untuk memaksakan atau mengatasi konflik yang ada.

 

Daftar Pustaka

Handoko, T. Hani, 2003, Manajemen, BPFE,Jogyakarta

Hardjito, D. Teori Organisasi dan Teknik Pengorganisasian, Jakarta, Raja Grafindo Persada, 1995.

Harahap, Sofyan Syafri, Akuntansi, Pengawasan & Manajemen dalam Perspektif Islam, Jakarta, FE Trisakti, 1992

Muhammad, T. 2006. Sukses Menjadi Pemimpin Islami.Jakarta: Maghfirah.

Rivai, Veithzal dan Arviyan Arifin, 2010.Islamic Leadership (Jakarta: Bumi Aksara)

Rivai, Veithzal. dan Dedy Mulyadi, 2010. Kepemimpinan dan Perilaku Organisasi, Jakarta: Rajawali Pers

Sondang P. Siagian, 1990, Fungsi-Fungsi Manajerial, Jakarta, Bumi Aksara

Widjajakusuma, M. Kareber dan Yusanto, M. Ismail (2002). Pengantar Manajemen Syariat. Jakarta: Khairul Bayan.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: