GENERASI UNGGUL BUKAN CUMA MIMPI!!!

IMG_3881Setiap orang tua tentunya sangat berharap anak-anaknya menjadi yang terbaik dan dapat menjalani hidup lebih baik dibandingkan orang tuanya. Anak adalah amanah dari Allah dan kita akan diminta pertanggunjawaban olehNYA mengenai bagaimana kita memperlakukan, menjadikan, dan mengupayakan masa depan anak kita.  Namun, anak juga anugerah yang tak ternilai harganya.  Sebagai orang tua, kita memang diharapkan mampu mencetak anak-anak yang berkepribadian istimewa.

Lantas yang jadi persoalan, bagaimana mewujudkan harapan orang tua tersebut menjadi suatu kenyataan? Permasalahan di lapangan yang membuat Anda panik, jika anak bermasalah dalam pengembangan perilakunya. Khususnya prestasi belajar anak yang buruk. Anak menjadi bandel atau anak memiliki penyimpangan perilaku. Anak tidak dapat menunjukkan prestasi yang membanggakan dan terarah untuk menjadi orang yang sukses di kemudian hari. Seperti tingkat kecerdasan anak payah, sulit belajar, malas belajar, suka berkelahi, berselisih dan bermusuhan dengan temannya. Emosi anak tidak stabil. Hanya karena masalah sepele saja, emosinya langsung meledak-ledak. Apalagi anak bermasalah dengan percaya dirinya. Kadang anak gampang murung dan kecewa. Anak selalu mengeluh dalam pergaulannya, karena dia merasa tersisih. Dia tak punya keberanian mengembangkan pergaulannya dengan teman yang punya kemampuan di atas anak. Anak tak punya keberanian berkomunikasi dengan orang lain.

Jika kita berharap agar anak-anak kita mendengarkan hal-hal yang baik, menyaksikan yang baik, memikirkan kebajikan dan kebenaran, maka tentunya harus ada input-input yang seperti itu yang diberikan oleh orang tua secara sadar dan terencana. Pola pikir, pola sikap serta kecenderungan-kecenderungan sesungguhnya sangat dipengaruhi oleh input-input yang diberikan sebelumnya. Semakin dini kita berikan input-input positif kepada anak kita maka semakin kuat tertanam dalah dirinya yang akan mempengaruhi kepribadiannya kelak.

Dalam sebuah sabda Rasulullah dikatakan bahwa anak adalah sebagai salah satu tabungan amal yang tetap akan mengalirkan pahala kepada orangtuanya sekalipun orangtuanya telah kembali ke hadirat Ilahi Robbi. Orang tua mana yang tidak ingin memilikinya anak yang seperti itu? Anak seperti apakah yang bisa demikian? Apakah semua anak bisa menghadiahkan pahala seperti itu? Mereka adalah anak-anak yang unggul.

Ada tiga hal penting agar anak kita dapat menjadi generasi yang unggul, yaitu:

1. Contoh dari orang tua dan guru

Perilaku Orang tua sangat mempengaruhi perilaku anak karena anak akan melihat, kemudian meniru tingkah laku orang tua yang dilihatnya. Anak yang masih kecil tentu sangat percaya dengan orang tuanya, sehingga apapun yang dilakukan oleh kedua orang tuanya akan menjadi contoh bagi mereka. Jika kita menginginkan anak kita rajin sholat seharusnya kedua orang tuanya sering melaksanakan sholat berjamaah baik di rumah maupun di masjid. Apabila kita mengharapkan anak kita menjadi anak yang sabar, maka kita harus bisa menahan amarah berlebihan di depan mereka. Begitu juga jika kita tidak menginginkan anak kita tidak merokok maka kita minimal jangan merokok di depan mereka. Sungguh aneh jika kita menginginkan keturunan kita menjadi generasi yang unggul tapi kita memberikan contoh tidak baik.

Dari Anas r.a., “Aku telah melayani Rasulullah SAW selama 10 tahun. Demi Allah beliau tidak pernah mengeluarkan kata-kata hardikan kepadaku, tidak pernah menanyakan : ‘Mengapa engkau lakukan?’ dan pula tidak pernah mengatakan: ‘Mengapa tidak engkau lakukan?’(Hadits Riwayat Bukhari, Kitabul Adab 5578, Muslim, Kitabul Fadhail 4269, dan selain keduanya)

Seorang datang kepada Nabi Saw dan bertanya, ” Ya Rasulullah, apa hak anakku ini?” Nabi Saw menjawab, “Memberinya nama yang baik, mendidik adab yang baik, dan memberinya kedudukan yang baik (dalam hatirnu).” (HR. Aththusi)

Begitu pula dengan para guru yang mendidik anak-anak usia sekolah harus mempunyai kepribadian yang unggul. Para guru bukan hanya mempunyai kualitas dibidang akademik saja tetapi harus dapat memberikan contoh kepada anak didiknya. Tidak sembarang orang dapat menjadi guru yang dapat diteladani. Akan fatal akibatnya jika anak-anbak dididik oleh para guru yang tidak mampu memberikan contoh yang baik bagi terciptanya generasi unggul.

Seorang pendidik, baik orangtua maupun guru hendaknya mengetahui betapa besarnya tanggung-jawab mereka di hadapan Allah ‘azza wa jalla terhadap pendidikan putra-putri islam.

Tentang perkara ini, Allah azza wa jalla berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu”. [(QS. At-Tahrim(66: 6)]

Untuk itu kewajiban guru atau orang tua harus tahu apa saja yang harus diajarkan kepada seorang anak serta bagaimana metode yang telah dituntunkan oleh junjungan umat ini, Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.

2. Berikan pendidikan yang terbaik

Setiap anak dilahirkan atas fitrohnya yaitu suci tanpa dosa, dan apabila anak tersebut menjadi yahudi atau nasrani, dapat dipastikan itu adalah dari orang tuanya. Orang tua harus mengenalkan anaknya tentang sesuatu hal yang baik yang harus dikerjakan dan mana yang buruk yang harus ditinggalkan. Sehingga anak itu bisa tumbuh berkembang dalam pedndidikan yang baik dan benar.

Dalam proses pendidikkan anak ini, adakalanya orang tua bersikap keras dalam mendidik anak. Contohnya, pada umur tujuh tahun orang tua mengingatkan anaknya untuk melakukan sholat dan pada saat umur sepuluh tahun, orang tua boleh memukulnya ketika sianak tersebut tidak mengerjakan sholat.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

“Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat” (HR. Al-Bukhari).

“Ajarilah anak-anak kalian untuk shalat ketika mereka berusia tujuh tahun, dan pukullah mereka ketika mereka berusia sepuluh tahun (bila tidak mau shalat-pen)” (Shahih. Lihat Shahih Shahihil Jami’ karya Al-Albani).

Bila mereka telah bisa menjaga ketertiban dalam shalat, maka ajak pula mereka untuk menghadiri shalat berjama’ah di masjid. Dengan melatih mereka dari dini, insya Allah ketika dewasa, mereka sudah terbiasa dengan ibadah-ibadah tersebut.

Ketika anak tersebut oleh orang tuanya dijadikan seorang muslim maka anak tersebut harus menjalankan kewajiban-kewajibannya sebagai seorang muslim. Salah satunya adalah berbakti kepada kedua orang tuanya seperti firman Allah SWT.

“dan Kami wajibkan manusia (berbuat) kebaikan kepada dua orang ibu- bapaknya”. (Q.S Al-ankabuut).

Alangkah tepat andai firman Allah tersebut kita baca berulang-ulang dan kita renungkan dalam-dalam. Sehingga Allah berkenan mengaruniakan cahaya hidayahnya kepada kita, mengaruniakan kesanggupan untuk mengoreksi diri dan mengaruniakan kesadaran untuk bertanya: “Telah seberapa besarkah kita memuliakan ibu bapak?”. Boleh jadi kita sekarang mulai mengabaikan orang tua kita. Bisa saja saat ini mereka tengah memeras keringat banting tulang mencari uang agar studi kita sukses. Sementara kita sendiri mulai malas belajar dan tidak pernah menyesal ketika mendapatkan nilai yang pas-pasan. Bahkan, dalam shalat lima waktunya atau tahajudnya mereka tak pernah lupa menyisipkan doa bagi kebaikan kita anak-anaknya.

Pendidikan seperti ini yang sekarang dikenal dengan pendidikan karakter. Tidak tepat juga dipahami bahwa mendidik anak itu dimulai pada usia sekolah di sekolah mereka; bahwa mendidik anak itu tanggung jawab guru dan sekolah karena hanya merekalah yang mempunyai skill pendidikan. Sebab Islam justru menyatakan bahwa setiap orangtua haruslah rabbayani shaghiran;mendidik, mengurus, mengasuh, menanamkan nilai-nilai rabbaniyah kepada anak dari sejak kecil. Semua orangtua dengan demikian dituntut untuk menjadi guru bagi anak-anaknya. Mendidik anak ibadah, hanya mendekati yang halal, menjauhi yang haram, beraqidah yang benar, dan berakhlaq mulia, tidak mensyaratkan harus sekolah tinggi atau kuliah di perguruan tinggi. Mendidik anak dalam hal-hal yang fardlu ‘ain sebagaimana disebutkan itu merupakan kewajiban dan kemampuan yang sudah semestinya dimiliki oleh semua orangtua yang mengharapkan do’a dari anak-anaknya.

3. Mendoakan anak-anak kita

Setelah kita memberikan contoh yang baik kepada anak kita dan memberikan pendidikan yang dterbaik maka akan sangat sia-sia apa yang kita lakukan jika tidak disertai memohon doa kepada Allah agar anak kita menjadi anak yang soleh dan soleha. Hanya kepada Allah kita memohon segala kebaikan dan keberkahan usaha kita. Doa juga dapat menjadi pelindung bagi anak-anak kita agar tidak tersesat dalam menghadapi godaan syaitan dan gemerlapnya dunia.

Wahai para tua marilah mendoakan anak-anak kita agar Allah memberikan yang terbaik untuk anak-anak kita dengan pendidikan yang saleh dan mengarahkan mereka berkhidmat kepada agama yang agung ini. Doa memiliki peran yang amat penting dalam kesalehan dan kebaikan anak. Berapa banyak doa yang bertepatan dengan waktu pengabulan menjadi sebab kebahagiaan anak di dunia dan akhirat. Dan berapa banyak pula doa yang menyimpangkan jalan anak yang menjadikannya menapaki jalan sesat dan menyimpang.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ثَلاَثُ دَعَوَاتٍ مُسْتَجَابَاتٌ لاَ شَكَّ فِيهِنَّ دَعْوَةُ الْوَالِدِ وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ

Tiga doa yang mustajab yang tidak diragukan lagi yaitu doa orang tua, doa orang yang bepergian (safar) dan doa orang yang dizholimi.(HR. Abu Daud no. 1536. Syaikh Al Albani katakan bahwa hadits ini hasan).

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ثَلاَثُ دَعَوَاتٍ لاَ تُرَدُّ دَعْوَةُ الْوَالِدِ ، وَدَعْوَةُ الصَّائِمِ وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ

Tidak doa yang tidak tertolak yaitu doa orang tua, doa orang yang berpuasa dan doa seorang musafir. (HR. Al Baihaqi dalam Sunan Al Kubro. Syaikh Al Albani mengatakan hadits ini shahih sebagaimana dalam As Silsilah Ash Shahihah no. 1797)

Moga Allah memperkenankan doa kita sebagai orang tua yang berisi kebaikan kepada anak-anak kita. Moga anak-anak kita berada dalam kebaikan dan terus berada dalam bimbingan Allah di jalan yang lurus. Jika kita sebagai anak, janganlah sampai durhaka pada orang tua. Banyak-banyaklah berbuat baik pada mereka, sehingga kita pun akan didoakan oleh bapak dan ibu kita.

Hendaknya umat masa sekarang mengambil pelajaran dari para pendahulunya. Sayangnya hal ini tidak dijadikan pelajaran yang mendapatkan perhatiannya. Yang dibaca justeru kondisi umat yang derajatnya di bawahnya, baik dari sisi ilmu, kekuatan, kemuliaan dan kapasitas. Sehingga dia mereka dirinya seperti bintang di banding mereka, memantau dari atas langit yang tinggi dengan perintah dan larangan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: