Ketika Sekolah (sudah) Tidak Mampu Mendidik Akhlaq Anak

steaming_mad_ears_anim_sm_wmSungguh sangat menyedihkan negeri Indonesia ku dengan segala permasalahannya yang kompleks dan seakan-akan tidak pernah henti menerpanya. Seandainya pendiri bangsa ini masih hidup, mungkin mereka merasa terpukul dengan tingkah laku kita mulai dari rakyat biasa maupun pemimpin bangsa ini yang akhlaqnya sudah sangat mengkhawatirkan bahkan bisa dibilang sudah sangat rusak. Kebanyakan kita sudah tidak mampu lagi membedakan mana yang benar (haq) dan mana yang salah (bathil), bahkan banyak juga yang merasa bangga atas kesalahan yang mereka lakukan. Hanya keperihan yang mungkin melanda orang tua terutama sang bunda yang melahirkan anak-anak dengan akhlaq yang jauh dari tuntunan agama maupun norma kehidupan yang berlaku di masyarakat.

Banyak contoh yang menunjukkan betapa merosotnya akhlaq anak-anak bangsa kita dan para pemimpin kita. Masih ingatkah kita betapa teganya seorang siswa menengah atas menyiramkan air keras ke penumpang sebuah angkutan umum di jakarta, kemudian betapa muaknya kita dengan senyuman para tersangka koruptor di layar televisi seakan tanpa dosa, kemarahan seorang pemimpin di depan media dengan mengumbar kata-kata dengan sangat emosional sehingga memberikan contoh tidak baik kepada rakyatnya, dan yang terbaru adalah perbuatan biadab beberapa siswa sekolah menengah pertama yang memperkosa teman sekelasnya di sekolah yang notabene adalah tempat yang harusnya mendidik mereka dengan akhlaq mereka.

Melihat kenyataan yang ada, wajar jika kita bertanya di mana peran sekolah dan para pendidik dalam mendidik dan membina akhlaq para peserta didik? Apa sekolah hanya tempat memberikan ilmu akademik saja? Apa sekolah dan para pendidik sudah tidak mampu memberikan pendidikan karakter yang selama ini digembar-gemborkan? Ataukah memang mereka (para tokoh dunia pendidikan)  termasuk kita sebagai anggota masyarakat sudah tidak peduli dengan pendidikan akhlaq? Dimana peran pemerintah dalam mendidik anak-anak bangsa agar mempunyai akhlaq yang mulia?

Tentu jawaban dari semua pertanyaan itu sering dikemukakan oleh banyak orang bahkan para ahli pendidikan, tetapi lebih kepada tataran teori dan pendapat-pendapat ilmiah yang sangat sulit diterapkan dalam tataran pelaksanaan pendidikan di sekolah. Selama kurikulum sekolah lebih mementingkan prestasi akademik dan mengesampingkan pendidikan akhlaq maka sekolah hanya akan menghasilkan para lulusan yang mungkin mempunyai nilai akademik tinggi tapi tidak berakhlaq baik dan tentunya akan melakukan kerusakan di muka bumi pertiwi ini seperti yang sudah terjadi saat ini.

Pendidikan karakter yang didengungkan tidak akan menjadi solusi mujarab atas permasalahan ini karena pendidikan akhlaq di sekolah khususnya sekolah umum hanya mendapatkan porsi 2 jam pelajaran seminggu, sedangkan guru-guru bidang studi lain yang diharapkan mampu membantu dalam pendidikan akhlaq banyak yang tidak mempunyai kemampuan dalam hal ini. Selain itu banyak sekali tugas administrasi guru yang menyita waktu sehingga tidak dapat secara optimal mendidik para peserta didik dalam hal akhlaq. Bahkan pendidikan pesantren pun tidak dapat menjawab permasalahan yang ada karena terbentur masalah syarat kelulusan yang lebih mementingkan nilai akademik dibandingkan masalah akhlaq.

Ironis sekali dengan tujuan pendidikan kita yang menginginkan adanya keseimbangan antara IPTEK dan IMTAQ. Pada kenyataannya banyak sekolah yang memberikan porsi untuk akademik hampir 8 jam pelajaran setiap hari tanpa memikirkan akhlaq peserta didik. Hal ini diperparah lagi dengan sistem penerimaaan siswa baru baik level SD, SMP, SMA maupun penerimaan mahasiswa baru yang lebih mementingkan penilaian akademis dibandingkan akhlaq dari peserta didik. Sangat wajarlah jika hasil pendidikan kita banyak melahirkan manusia-manusia dengan emosi yang tidak terkontrol, perilaku yang menyimpang dan pemikiran yang nyeleneh tanpa memperhatikan kepentingan orang banyak dan menabrak aturan agama serta melanggar norma-norma yang berlaku di dalam masyarakat.

Solusi dari segala kerusakan akhlaq adalah bagaimana cara mendidik anak-anak kita yang masih polos dengan memberikan pendidikan agama sejak dini mulai dari dalam kandungan kemudian dilanjutkan memberikan pendidikan mulai dari usia sekolah sampai mereka dewasa. Keluarga merupakan filter yang paling utama dilanjutkan sekolah sebagai tempat praktek dalam bersosialisasi dengan lingkungan yang menjadi pengawas dalam setiap tingkah laku keseharian anak-anak kita.

Pemerintah juga harus mau mendengarkan segala permasalahan ini dengan memberikan langkah nyata seperti menambah jam pelajaran seperti Agama, Pkn dan Budi Pekerti di sekolah. Tidak lupa diberikan ruang untuk mereka menunjukkan kemampuan mereka dalam kompetisi-kompetisi yang berkaitan dengan pendidikan karakter, karena selama ini ajang lomba atau kompetisi lebih banyak mengarah kepada masalah akademik dan otot.

Semoga catatan kecil ini mampu menyadarkan kita untuk lebih memperhatikan anak-anak kita dalam hal pendidikan akhlaqnya. Selamat berjuang para orang tua… tetap bersemangat para pendidik… mudah-mudahan kita mampu menjadikan generasi kita selanjutnya menjadi generasi emas dengan kemampuan akademik dan akhlaq yang baik. Amiin…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: