MANAJEMEN YANG ISLAMI

stick_figures_team_puzzle_sm_wmManajemen merupakan suatu kebutuhan yang tak terelakkan sebagai alat untuk memudahkan pencapaian tujuan manusia dalam organisasi, sebagai suatu sistem yang bersifat sosio-ekonomi-teknis dan aplikasinya bersifat bebas nilai serta hanya berorientasi pada pencapaian manfaat bendawi semata.

Menurut (Reza Baizuri) banyak orang ketika ditanyakan, “apa itu manajemen?” Maka serentak mereka menjawab, “manajemen adalah proses perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan pengawasan (PODC, dalam istilah lebih popular POAC) sumber daya perusahaan untuk mencapai sasarannya”. sementara itu menurut Peter Drucker, “Management is about human beings”. Manajemen berkisar pada aktivitas manusia untuk mampu mengerjakan tugasnya, untuk membuat kekuatannya efektif dan kelemahannya tertutupi. Dengan pengertian Drucker, manajemen inheren ada pada manusia, dan bukan lahir dari Perang Dunia I ketika banyak Negara sedang berpikir tentang “manajemen” menyerang dan mempertahankan diri dariserangan Negara lawan. Oleh itu, pengertian yang benar akan manajemen perlu untuk dipahami oleh praktisi manajemen, dalam kasus ini, semua manusia

Manajemen menurut pandangan Islam merupakan manajemen yang adil. Batasan adil adalah pimpinan tidak ”menganiaya” bawahan dan bawahan tidak merugikan pimpinan maupun perusahaan yang ditempati. Bentuk penganiayaan yang dimaksudkan adalah mengurangi atau tidak memberikan hak bawahan dan memaksa bawahan untuk bekerja melebihi ketentuan. Seyogyanya kesepakatan kerja dibuat untuk kepentingan bersama antara pimpinan dan bawahan. Jika seorang manajer mengharuskan bawahannya bekerja melampaui waktu kerja yang ditentukan, maka sebenarnya manajer itu telah mendzalimi bawahannya. Dan ini sangat bertentangan dengan ajaran agama Islam.

Mohammad Hidayat, seorang konsultan bisnis syariah, menekankan pentingnya unsur kejujuran dan kepercayaan dalam manajemen Islam. Nabi Muhammad SAW adalah seorang yang sangat terpercaya dalam menjalankan manajemen bisnisnya. Manajemen yang dicontohkan Nabi Muhammad SAW, adalah menempatkan manusia bukan sebagai faktor produksi yang semata diperas tenaganya untuk mengejar target produksi.

Nabi Muhammad SAW mengelola (manage) dan mempertahankan (mantain) kerjasama dengan stafnya dalam waktu yang lama dan bukan hanya hubungan sesaat. Salah satu kebiasaan Nabi adalah memberikan reward atas kreativitas dan prestasi yang ditunjukkan stafnya.

Menurut Hidayat, manajemen Islam pun tidak mengenal perbedaan perlakuan (diskriminasi) berdasarkan suku, agama, atau pun ras. Nabi Muhammad SAW bahkan pernah bertransaksi bisnis dengan kaum Yahudi. Ini menunjukkan bahwa Islam menganjurkan pluralitas dalam bisnis maupun manajemen.

Hidayat mengungkapkan, ada empat pilar etika manajemen bisnis menurut Islam seperti yang dicontohkan Nabi Muhammad SAW.

Pilar pertama, tauhid artinya memandang bahwa segala aset dari transaksi bisnis yang terjadi di dunia adalah milik Allah, manusia hanya mendapatkan amanah untuk mengelolanya.

Pilar kedua, adil artinya segala keputusan menyangkut transaksi dengan lawan bisnis atau kesepakatan kerja harus dilandasi dengan akad saling setuju.

Pilar ketiga, adalah kehendak bebas artinya manajemen Islam mempersilahkan umatnya untuk menumpahkan kreativitas dalam melakukan transaksi bisnisnya sepanjang memenuhi asas hukum ekonomi Islam, yaitu halal.

Dan keempat adalah pertanggungjawaban artinya Semua keputusan seorang pimpinan harus dipertanggungjawabkan oleh yang bersangkutan.

Keempat pilar tersebut akan membentuk konsep etika manajemen yang fair ketika melakukan kontrak-kontrak kerja dengan perusahaan lain atau pun antara pimpinan dengan bawahan.

Ciri manajemen Islami yang membedakannya dari manajemen ala Barat adalah seorang pimpinan dalam manajemen Islami harus bersikap lemah lembut terhadap bawahan. Contoh kecil seorang manajer yang menerapkan kelembutan dalam hubungan kerja adalah selalu memberikan senyum ketika berpapasan dengan karyawan karena senyum salah satu bentuk ibadah dalam Islam dan mengucapkan terima kasih ketika pekerjaannya sudah selesai. Namun kelembutan tersebut tidak lantas menghilangkan ketegasan dan disiplin. Jika karyawan tersebut melakukan kesalahan, tegakkan aturan. Penegakkan aturan harus konsisten dan tidak pilih kasih.

Prof KH Ali Yafie memberikan beberapa saran bila seseorang ingin menjadi manajer yang berjiwa pemimpin (ri’ayah) diantaranya:

  1. Berikan perhatian atau kepedulian kepada bawahan
  2. Buat perencanaan kerja yang baik
  3. Bersungguh-sungguh dan teliti dalam melaksanakan rencana kerja
  4. Lakukan pengawasan secara terus-menerus
  5. Lakukan evaluasi hasil secara berkala
  6. Tegakkan disiplin dalam waktu kerja
  7. Memikul tanggung jawab terhadap hasil akhir

Berbicara tentang masalah keteladanan, Rasulullah pantas menjadi sosok idola yang bisa diteladani oleh setiap manusia dimanaoun berada, apa pun profesinya. Inilah kelebihan Rasulullah Saw karena Allah sendiri dengan jelas menyatakan dalam firman-Nya bahwa terdapat suri tauladan yang baik dalm diri Rasululla Saw. Siapa pun ada, jika ingin sukses dunia akhirat, contohlah Rasulullah, karena Rasulullah adalah diibaratkan sebagai Al Qur’an Hidup. Panduan Muslim memang Al Qur’an yang merupakan firman Allah, namun contoh penerapan Al Qur’an dalam kehidupan sehari-hari dapat kita lihat dari kepribadian Rasulullah Saw. Allah swt berfirman dalam surah al Ahzab (33:21):

Sesungguhnya Telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.

 

  1. Keteladanan Sebagai Pribadi Muslim

Sebagai pribadi muslim banyak yang harus diteladani dari Nabi Muhammad saw. Nabi Muhammad saw senantiasa berusaha memelihara dan meningkatkan kesehatan, kebersihan dan keindahan tubuhnya secara islami. Dalam hubungannya dengan sesama manusia Nabi Muhammad saw senantiasa membiasakan diri dengan akhlak terpuji dan menjauhkan diri dari akhlak tercela serta giat beramal shaleh yang bermanfaat bagi orang banyak. Bahkan Allah SWT telah memujinya dengan sebuah firmanNYA dalam surah al Qalam (68:4):

Dan Sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.

 

  1. Keteladanan Sebagai Pemimpin

Menurut Aa gym dalam menyebutkan ada empat hal karakter seorang pemimpin apa yang telah dicontohkan Rasulullah, sebagai berikut:

  • Keteladanan dalam keyakinan kepada Allah.
  • Keteladanan dalam akhlak.
  • Keteladanan dalam pengorbanan
  • Keteladan dalam memberikan solusi dari setiap permasalah.

 

  1. Keteladanan Dalam Hidup Berumahtangga
  • Bersikap Adil
  • Bermusyawarah Dengan Istrinya

 

Sumber :

Handoko, T. Hani, 2003, Manajemen, BPFE,Jogyakarta

Muhammad, T. 2006. Sukses Menjadi Pemimpin Islami.Jakarta: Maghfirah.

Rivai, Veithzal dan Arviyan Arifin, 2010.Islamic Leadership (Jakarta: Bumi Aksara)

Rivai, Veithzal. dan Dedy Mulyadi, 2010. Kepemimpinan dan Perilaku Organisasi, Jakarta: Rajawali Pers

Syafii, Antonio. 2007. Muhammad SAW : The Super Leader Super Manager, Jakarta : Tazkia Multimedia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: