NASIHAT UNTUK PARA PEMIMPIN

aku yakinDalam sebuah pekerjaan dimanapun, baik pekerjaan yang berkaitan dengan bisnis, sosial, maupun pendidikan sebuah jabatan merupakan suatu hal yang sering diperebutkan oleh banyak karyawan. Hal ini wajar, karena biasanya orang yang mempunyai jabatan tentunya adalah orang mempunyai kinerja dan prestasi yang baik. Kinerja dan prestasi ini dapat dilihat dari hasil pekerjaannya, hubungan antar rekan kerja, hubungan dengan pimpinan (tapi bukan menjilat), maupun hubungan dengan perusahaan ataupun lembaga diluar lingkungan kerja.

Semua kamu adalah pemimpin dan bertanggung jawab atas kepemimpinannya. Seorang imam (amir) pemimpin dan bertanggung jawab atas rakyatnya. Seorang suami pemimpin dalam keluarganya dan bertanggung jawab atas kepemimpinannya. Seorang isteri pemimpin dan bertanggung jawab atas penggunaan harta suaminya. Seorang pelayan (karyawan) bertanggung jawab atas harta majikannya. Seorang anak bertanggung jawab atas penggunaan harta ayahnya. (HR. Bukhari dan Muslim)

Tulisan ini bertujuan hanya untuk memberikan nasehat atau sekedar masukan kepada para pejabat lama, pejabat baru, dan yang akan menjabat. Semoga dapat diambil hikmahnya

Untuk para pejabat lama

  1. Anda yang sudah menjabat terlalu lama hendaknya menyadari bahwa bisa jadi anda berada lama di posisi anda bukan karena kinerja dan prestasi kerja anda baik tetapi bisa jadi anda mampu memuaskan pimpinan dengan laporan-laporan palsu tentang hasil kerja anda. Untuk itu sadarilah bahwa anda sudah menipu banyak orang dan yang pastinya upah/gaji yang anda terima dapat dikategorikan haram dari cara mendapatnya… mudah-mudahan anda menyadarinya.                                                                                                                    Mencari rezeki yang halal adalah wajib sesudah menunaikan yang fardhu (seperti shalat, puasa, dll). (HR. Ath-Thabrani dan Al-Baihaqi)
  1. Coba anda evaluasi dengan jujur… apakah anda berhasil selama memimpin? Apakah program yang anda buat telah membuat lembaga anda menjadi lebih baik atau sebaliknya? Coba anda renungkan hal ini.                  Akan datang sesudahku penguasa-penguasa yang memerintahmu. Di atas mimbar mereka memberi petunjuk dan ajaran dengan bijaksana, tetapi bila telah turun mimbar mereka melakukan tipu daya dan pencurian. Hati mereka lebih busuk dari bangkai. (HR. Ath-Thabrani)
  1. Anda yang sudah menjabat terlalu lama… hati-hatilah dengan tindakan dan sikap anda selama ini yang mungkin telah menyakiti dan mendzalimi anak buah anda dengan sewenang-wenang tanpa alasan yang logis. Janganlah setiap kesalahan atau kegagalan dari sebuah program, anda limpahkan kepada anak buah anda, tanpa anda menyadari bahwa andalah yang paling bertanggung jawab atas kegagalan tersebut.                       Ada tiga perkara yang tergolong musibah yang membinasakan, yaitu (1) Seorang penguasa bila kamu berbuat baik kepadanya, dia tidak mensyukurimu, dan bila kamu berbuat kesalahan dia tidak mengampuni; (2) Tetangga, bila melihat kebaikanmu dia pendam (dirahasiakan / diam saja) tapi bila melihat keburukanmu dia sebarluaskan; (3) Isteri bila berkumpul dia mengganggumu (diantaranya dengan ucapan dan perbuatan yang menyakiti) dan bila kamu pergi (tidak di tempat) dia akan mengkhianatimu. (HR. Ath-Thabrani)
  1. Janganlah anda mempertanyakan kinerja anak buah anda tanpa anda melakukan evaluasi terhadap diri anda sendiri. Bisa jadi kinerja mereka tidak baik karena anda juga memberikan contoh yang tidak baik
  2. Berikanlah perhatian dengan penuh kekeluargaan dan perhatikan kesejahteraan anak buah anda dengan melakukan penilaian secara objektik bukan subjektif.                                                                               Barangsiapa diserahi kekuasaan urusan manusia lalu menghindar (mengelak) melayani kaum lemah dan orang yang membutuhkannya maka Allah tidak akan mengindahkannya pada hari kiamat. (HR. Ahmad)
  1. Mundurlah apabila anda memang merasa sudah tidak sanggup memimpin atau anda merasa anak buah anda sudah tidak percaya pada anda, karena itu lebih dihargai dari pada anda diminta mundur oleh semua orang yang merasa anda sudah tidak amanah.                                                                                                                Janganlah kamu mengagumi orang yang terbentang kedua lengannya menumpahkan darah. Di sisi Allah dia adalah pembunuh yang tidak mati. Jangan pula kamu mengagumi orang yang memperoleh harta dari yang haram. Sesungguhnya bila dia menafkahkannya atau bersedekah maka tidak akan diterima oleh Allah dan bila disimpan hartanya tidak akan berkah. Bila tersisa pun hartanya akan menjadi bekalnya di neraka. (HR. Abu Dawud)

Untuk para pejabat baru

  1. Beristigfarlah dengan melakukan taubat. Tanyalah pada diri anda, apakah anda pantas menerima jabatan ini dengan semua prestasi dan kinerja anda? Apakah anda menjadi pejabat karena menjilat? Apakah anda menjabat karena memfitnah? Ataukah anda menjabat karena memang anda mempunyai ambisi tapi tidak prestasi?… Hati-hati penghasilan anda bisa jadi tidak halal loh…                                                               Rasulullah Saw berkata kepada Abdurrahman bin Samurah, “Wahai Abdurrahman bin Samurah, janganlah engkau menuntut suatu jabatan. Sesungguhnya jika diberi karena ambisimu maka kamu akan menanggung seluruh bebannya. Tetapi jika ditugaskan tanpa ambisimu maka kamu akan ditolong mengatasinya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
  1. Sadarilah bahwa anda sekarang mempunyai tanggung jawab yang lebih banyak karena anda menjadi pemimpin, dan pemimpin akan dimintai pertanggungjawabannya baik karena kesalahan sendiri maupun kesalahan anak buah anda. Jadi anda harus mau bertanggung jawab atas kesalahan yang anda perbuat maupun yang dilakukan oleh anak buah anda.                                                                                                           Tiada beriman orang yang tidak memegang amanat dan tidak ada agama bagi orang yang tidak menepati janji. (HR. Ad-Dailami)
  1. Mulailah membuat program dengan inovasi dan kreatifitas tanpa harus menjiplak, dan libatkanlah anak buah anda dengan diskusi yang komunikatif sehingga program yang direncakan akan menjadi tanggung jawab bersama bukan pribadi
  2. Tolaklah atau Mundurlah kalau anda memang merasa tidak sanggup… jangan hanya karena ambisi anda mengabaikan prestasi… akan terasa hina jika kita menerima jabatan padahal kita menyadari bahwa kita sebenarnya tidak berhak dan tidak mampu

Untuk yang belum menjabat

  1. Sadarilah bahwa jabatan hanyalah sebuah siklus dari perjalanan kerja yang anda lakukan, jika anda memang mempunyai kemampuan dengan kinerja dan prestasi yang baik pada bidang anda maka bukan anda yang akan meminta jabatan tersebut tetapi jabatan tersebut yang akan meminta anda.                                    Sesungguhnya Allah suka kepada hamba yang berkarya dan terampil (professional atau ahli). Barangsiapa bersusah-payah mencari nafkah untuk keluarganya maka dia serupa dengan seorang mujahid di jalan Allah Azza wajalla. (HR. Ahmad)
  1. Tetaplah istiqomah dalam bekerja karena anda bekerja bukan hanya untuk jabatan saja tetapi mencari penghasilan yang halal untuk keluarga anda
  2. Teruslah memberikan saran dan kritikan kepada para pejabat yang memimpin anda dengan tujuan memperbaiki tanpa harus sakit hati apabila saran dan kritikan anda tidak diterima
  3. Rezeki sudah diatur oleh Allah… Jadi janganlah mengambil hak orang lain dengan dzalim… tetap bersabar dan berbuat baiklah setiap…                                                                                                                                Sesungguhnya Ruhul Qudus (malaikat Jibril) membisikkan dalam benakku bahwa jiwa tidak akan wafat sebelum lengkap dan sempurna rezekinya. Karena itu hendaklah kamu bertakwa kepada Allah dan memperbaiki mata pencaharianmu. Apabila datangnya rezeki itu terlambat, janganlah kamu memburunya dengan jalan bermaksiat kepada Allah karena apa yang ada di sisi Allah hanya bisa diraih dengan ketaatan kepada-Nya. (HR. Abu Zar dan Al Hakim)

 

Apabila Allah menghendaki kebaikan bagi suatu kaum maka dijadikan pemimpin-pemimpin mereka orang-orang yang bijaksana dan dijadikan ulama-ulama mereka menangani hukum dan peradilan. Juga Allah jadikan harta-benda di tangan orang-orang yang dermawan. Namun, jika Allah menghendaki keburukan bagi suatu kaum maka Dia menjadikan pemimpin-pemimpin mereka orang-orang yang berakhlak rendah. DijadikanNya orang-orang dungu yang menangani hukum dan peradilan, dan harta berada di tangan orang-orang kikir. (HR. Ad-Dailami)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: