KONDISI MANUSIA MENYIKAPI PUJIAN DAN CELAAN

1439793843412Setiap perbuatan yang dilakukan oleh seorang manusia akan selalu menimbulkan konsekuensi. Bisa jadi perbuatan tersebut akan mendapat pujian, tetapi bisa juga akan mendapat celaan.Tak satupun tindakan yang kita lakukan akan mendapat pujian oleh semua manusia,meskipun itu tindakan yang sangat baik.sebaliknya, tak sapun pula tindakan yang dibenci oleh semua manusia didunia, meskipun itu jelas-jelas tindakan yang dilakukan adalah jahat dan buruk.

Seseorang tidak akan menjadi hamba yang ikhlas sebelum ia memandang sama antara pujian dan celaan. Baginya yang terpuji takkan menjadi tercela karena celaan mereka dan yang tercela takkan menjadi terpuji karena pujian mereka. Jangan bangga karena pujian orang karena pujian mereka sekali-kali tidak akan mengangkat kedudukanmu di sisi Allah dan tidak akan merubah takdir dan ketetapannya atasmu. Jangan bersedih karena celaan orang karena itu sekali-kali tidak akan menurunkan derajatmu disisi Allah (Bahkan akan menaikkan kedudukanmu disisiNya karena kesabaranmu). Cukuplah atas kesaksian Allah atas perbuatan baik dan burukmu. Firman Allah: ‘Cukuplah Allah sebagai saksi’ (QS 4:79).

Seorang yang mencermati secara seksama sekalipun ini pahit rasanya-niscaya akan mengetahui bahwa celaan manusia kepadanya justru lebih baik daripada pujian mereka, sebab pujian kalau memang benar maka bisa menyeretnya menjadi LUPA DARATAN dan menimbulkan penyakit ‘UJUB (bangga diri) yang akan merusak keutamaannya, namun apabila pujian itu tidak benar dan dia bergembira dengannya, maka berarti dia GEMBIRA DENGAN KEDUSTAAN. Sungguh ini kekurangan yang sangat.

Adapun celaan manusia, kalau memang benar maka hal itu dapat mengeremnya dari perbutan yang tercela, dan ini SANGAT BAGUS SEKALI, semua pasti menginginkannya KECUALI ORANG YANG KURANG AKALNYA.

Namun apabila celaan yang ditujukan kepadanya tidak benar dan dia bersabar, berarti dia mendapatkan keutamaan sabar dan akan MENGAMBIL PAHALA KEBAJIKAN ORANG YANG MENCELANYA sehingga dia akan menuai pahala kelak di hari kiamat hanya dengan perbuatan yang tidak memberatkan. Sungguh ini adalah kesempatan berharga, semua pasti menginginkannya kecuali orang yang gila.”

Imam Abu Hamid al-Ghazali dalam kitabnya Ihyâ’ Ulûmiddin mengatakan: “Ketahuilah, bahwa dalam perkara pujian dan celaan kondisi manusia terbagi ke dalam empat macam:

  1. Ia akan gembira dengan pujian dan berterima kasih atas hal tersebut. Sebaliknya, dia akan marah atas celaan dan mendengki pencelanya, serta akan membalas dendam.
  2. Ia akan memendam kemarahan di dalam hati kepada orang yang mencelanya, akan tetapi menahan lisan dan semua anggota tubuhnya untuk membalasnya. Atau, hatinya merasa gembira dan senang kepada orang yang memujinya, akan tetapi menahan ekspresi tubuhnya utk menahan kegembiraan. Di sini ada kekurangan, namun dibandingkan sebelumnya, ini lebih baik.
  3. Ini adalah tingkatan kesempurnaan yang pertama pertama, yaitu menganggap datar antara orang yang mencela dan yang memujinya. Ia tidak merasa risau dengan celaan dan tidak pula senang dengan pujian.
  4. Jujur dalam beribadah. Ia membenci pujian dan marah kepada orang yang memujinya, sebab ia tahu pujian adalah fitnah yang sangat berbahaya bagi diri dan agamanya. Ia suka kepada orang yang mencelanya, sebab ia tahu bahwa orang ini menunjukkan aib, kekurangan dan dosa pada dirinya.

Oleh karena itu, Nabi Muhammad SAW menyuruh untuk menaburkan tanah pada wajah orang-orang yang suka memuji. Suatu ketika, Miqdad RA melihat seseorang memuji Utsman bin ‘Affan RA, maka Miqdad menghampiri orang ini, lalu ia berjongkok, kemudian menaburkan kerikil pada wajah orang tersebut. Utsman berkata: “Ada apa denganmu?” Miqdad menjawab: “Rasulullah SAW bersabda:

إذا رأيتم المداحين فاحثوا في وجوههم التراب

‘Apabila kalian melihat orang-orang yang suka memuji, maka taburkanlah tanah pada wajah mereka’.” (HR. Muslim, Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Maka pandanglah pujian dan celaan sebagai hal yang sama. Beramallah yang mendatangkan pujian dan ridha Allah atas dirimu. Ketahuilah, sesungguhnya manusia diciptakan dalam kelemahan (QS 4:28), dari air hina (QS 77:20, 32:8). Mereka tidak memperoleh apa pun selain apa yang mereka usahakan (QS 53:39) dan mereka tidak mampu mendatangkan manfaat dan menghindarkan mudharat pada diri mereka, dan tidak pula berkuasa mendatangkan kematian, kehidupan dan kebangkitan (QS 25:3).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: